PBQS

widgeo.net
Pt.1106,No.14,Jalan Gemilang 1,Taman Gemilang,45300 Sungai Besar, Selangor.

Jumaat, 16 Julai 2010

Sejarah Huruf Hijaiyyah

Riwayat Sejarah
Nukilan Oleh Ibnu Shahr As-Saalanury dari balliqul-ilm.blogspot.com
Sejarah Huruf Hijaiyyah

Salah satu pembahasan yang terpenting dalam kajian Metode Struktur dan Format Al Quran adalah struktur abjad (huruf hijaiyyah).

Struktur huruf menurut prespektif kajian ini merupakan representasi dari organ atau titik-titik (sub struktur) dalam tubuh manusia secara fisik namun lebih lengkap dan detil dibandingkan dengan struktur 'ain. Karena struktur 'ain hanya representasi dari organ-organ vital manusia.

Pada awalnya, pemaknaan masing-masing huruf menjadi sebuah representasi dari organ tertentu, memang menggunakan pendekatan mistis, tetapi kemudian dikembangkan dan diterapkan sehingga bersifat empiris.

Riwayat Sejarah

1. Dari Abdurrahman bin Usman, dari Qasim bin Asbagh, dari Ahmad bin Zuhair, dari al Fadl bin Dakkin, dari Wail dari Jabir dari Amir dari Samurah bin Jundab, ia berkata: "Saya telah melakukan pengkajian terhadap asal muasal tulisan Arab. Saya temukan tulisan Arab telah ada dan digunakan suku Al Anbar sebelum suku Hiyarah mempergunakanya”.

2. Dari Ibnu Affan dari Qasim dari Ahmad dari az Zubair bin Bakkar, dari Ibrahim bin al Mundzir, dari Abdul Aziz bin lmran, dari Ibrahim bin Ismail bin Abi Hubaib dari Dawud bin Husain dari lkrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Orang yang pertama kali mengucapkan bahasa Arab dan membuat tulisan lafalnya adalah Ismail bin Ibrahim."

3. Dari Ahmad bin Ibrahim bin Faras Al Makky, dan Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad, dari kakeknya, dari Sufyan bin 'Uyainah dari Mujalid, dari as Sya'by, ia berkata: "Kami ditanya orang-orang muhajirin: "dari mana kalian belajar menulis? Kami menjawab: "dari penduduk suku Hiyarah. Kemudian orang-orang Muhajirin mengklarifikasi berita itu kepada penduduk Hiyarah. Mereka bertanya: "Dari mana kalian belajar menulis? Penduduk suku Hiyarah menjawab: "Kama belajar dari: suku Anbar".

Abu 'Amr mengatakan: "Dalam kitab Muhammad bin Sahnun terdapat riwayat sebagai berikut: Dari Abul Hajjaj yang mempunyai nama asli Sakan bin Tsabit berkata: dari Abdullah bin Farukh dari Abdur Rahman bin Ziyad bin An'am al Mu'afiry dari ayahnya Ziyad bin An'am ia berkata: "saya berkata kepada Abdullah bin Abbas: "Wahai suku Quraisy, apakah kalian pada zaman jahiliyyah menulis dengan tulisan Arab seperti ini, kalian menggabungkan huruf tertentu dan memisah huruf tertentu, ada alif, lam, mim, syakl, qath' dan lain-lain sebelum Allah mengutus Nab' SAW?"

Ia menjawab: “ya”,

Lalu aku berkata: ‘Siapa yang mengajari kalian menulis?”.

Ia menjawab: “Harb bin `Umayyah”.

Aku bertanya lagi: "Lalu siapa yang mengajari Harb bin Umayyah?”.

Ia menjawab: “Abdullah bin Jud'an”.

Aku bertanya lagi: “Siapa yang mengajari Abdullah bin Jud'an?”.

Ia menjawab: "Penduduk Al Anbar".

Aku bertanya lagi: “Siapa yang mengajari penduduk Al Anbar?”.

Ia menjawab: “Seseorang yang datang dari tanah Yaman, dari suku Kindah”.

Aku bertanya lagi: “Lalu siapakah yang mengajarkan seseorang tersebut?”.

Ia menjawab: "Al Juljan bin Al Muhim, ia adalah sekretaris nabi Hud as untuk menuliskan Wahyu dari Allah SWT."

Dari Ibnu Affan, dari Qasim, dari Ahmad bin Abi Khaitsamah ia berkata: "Huruf Hijaiyyah berjumlah 29 huruf, semua lafal dan tulisan Arab tidak bisa lepas dari huruf tersebut."

Dari Ibrahim bin Al Khattab al Lama'iy, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah dari Ahmad bin Musa bin Ismail al Anbary dari Muhammad bin Hatim Al Muaddib dari Ahmad bin Ghassan dari Hamid bin Al Madainy dari Abdullah bin Said, ia berkata: “Telah sampai kepada kita sebuah riwayat bahwa ketika huruf-huruf Mu'jam yang berjumlah 29 menghadap Yang Maha Pengasih, huruf Alif merendahkan diri dihadapan-Nya. Allah terkesan dengan sikap rendah hatinya, lalu Dia menjadikan alif sebagai awalan dari nama-Nya (Allah)”.

Abu Amr berkata: “Sebagian ahli bahasa mengatakan alasan alif menempati urutan pertama karena alif merupakan representasi dari hamzah yang menjadi awal kalimat, alif layyinah, dan hampir semua hamzah.”

Kemudian alif hanya menjadi awal kalimat tatkala huruf yang lain yaitu wawu dan yaa ikut merepresentasikan dirinya yang pada keadaan yang lain berbentuk hamzah di tengah dan di akhir.

Abu Amr berkata “Alasan kenapa setelah huruf alif adalah huruf baa, taa, tsaa adalah karena huruf tersebut adalah huruf yang paling banyak menyerupai huruf yang lain, di mana jika huruf yaa dan nuun terletak pada awal kalimat atau di tengah kalimat maka akan menyerupainya sehingga kalau di jumlah ada 5 huruf yang berkarakter sama. Oleh karena itu untuk mengantisipasi dan mencari jalan keluamya adalah dengan mendahulukan urutannya. Kemudian urutan setelah baa, taa, tsaa adalah jiim, haa, khaa."

Tertib urutan huruf yang serupa (mutasyabihat) dan Mazdujat (dal, dzal, ra' dan lain-tain) adalah sesuai dengan sedikit atau banyaknya frekwensi dipergunakan dalam percakapan. Jadi semakin depan urutannya, semakin banyak digunakan dalam percakapan. Kecuali untuk huruf nun dan yaa sekalipun kedua huruf tersebut diakhirkan namun ia mempunyai derajat yang sama dengan huruf yang menempati urutan di depan karena huruf yang menyerupai karaktemya telah di tempatkan di depan (ba, ta, tsa).

Selanjutnya Abu Amr mengatakan diantara huruf ada juga yang tidak bisa disambung dengan huruf yang lain setelahnya. Jumlahnya ada 6 yaitu : alif, dal, dzal, ra, za, dan wawu.

Alasan kenapa huruf tersebut tidak bisa disambung dengan huruf yang lain juga sama dengan di atas yaitu untuk menghindari keserupaan antar huruf. Andaikata alif bisa disambung dengan huruf lain setelahnya, akan serupa dengan huruf lam, dan wawu akan sama dengan huruf fa dan qaf, dan dal, dzal, ra, za akan sama dengan yaa dan ta.

Alasan lain yang dikemukakan Abu Amr tentang rahasia di batik urutan huruf hijaiyyah adalah: Alif menempati urutan pertama karena dua alasan yaitu berdasarkan Khabar (tentang sikap rendah diri Alif di hadapan Allah) dan Nadzar (pemyataan ahli bahasa yang telah dijelaskan di atas).

Selain itu karena Alif menjadi awal dari ayat surat Al Fatihah yang merupakan induk Al Quran dan karena seringnya digunakan dalam tulisan dan percakapan.

Bisa disimpulkan huruf alif adalah huruf yang hampir seluruh kata tidak bisa dan tidak mungkin terlepas darinya dan paling banyak diulang dan digunakan dalam percakapan.

Kemudian huruf setelah alif adalah huruf baa, taa, tsaa. Oleh karena ketiga huruf tersebut yang terbanyak mempunyal karakter yang sama maka tradisi pun mengikutinya untuk menulisnya setelah alif.

Alasan kenapa huruf ba terletak setelah huruf alif adalah karena huruf ba menjadi awal dari Basmalah setelah sebelumnya huruf alif menjadi awal Ta'awwudz. Selain itu, ba menempati urutan kedua setelah alif dalam rumusan huruf Arab (hija) kuno yaitu lafal AB' JADIN.

Alasan lain yaitu karena ba bertitik satu, ta bertitik dua, dan tsa bertitik tiga. Jadi sesuai dengan urutan angka. Oleh karena itu ba menempati urutan pertama, ta kedua dan tsa ketiga.

Ada juga yang mengatakan alasannya adalah karena sedikit atau banyaknya frekwensi penggunaannya dalam kalimat sehingga yang didahulukan adalah yang paling banyak frekwensinya.

Kemudian huruf jim, ha, dan kha. Ketiganya paling banyak mempunyai karakter dibanding huruf yang lain. Alasan setelah tsa dan jim adalah karena bersambungnya huruf jim setelah ba pada lafal ABI JAD.

Selain itu ha diletakkan sebelum kha karena sesuai dengan urutan makhraj (tempat keluarnya huruf) dimana huruf ha keluar dari tengah tenggorokan dan kha dari tenggorokan bagian atas. Sehingga ha diletakan lebih dulu dari kha.

Setelah itu huruf dal dan dzal. Keduanya berkarakter sama. Dal ditempatkan lebih dulu karena terletak setelah huruf jim pada lafal ABI JAD.

Kemudian ra dan za. Keduanya juga mempunyai karakter sama. Semua huruf yang berpasangan diletakkan secara berurutan dengan alasan yang sama.

Sampai disini urutan penulisan huruf hijaiyyah tidak mengalami perbedaan, baik pada penduduk Masyriq dan Maghrib.

Setelah huruf ra dan za penduduk Masyriq dan Maghrib berbeda pendapat tentang urutan huruf setelahnya. Penduduk Masyriq menulis setelah huruf ra dan za adalah sin dan syin dengan alasan za dan sin mempunyai sifat yang sama: as Shafir.

Sin terletak lebih dahulu ketimbang syin karena yang asal adalah huruf tanpa titik sehingga huruf yang sama karaktemya namun bertitik diletakkan sesudahnya. Yang asal selalu diletakkan pertama dan lebih dahulu ketimbang yang sifatnya far'i (cabang).

Setelah sin dan syin adalah shad dan dhad. Huruf ini pun berkarakter sama dan diletakkan setelah sin karena huruf shad mempunyai sifat sama dengan sin yaitu shafir dan hams.

Kemudian tha dan dza. Keduanya mempunyai karakter yang sama dan sebagaimana huruf-huruf yang lalu tha dan dza mempunyai sifat yang sama yaitu ithbaq dan isti'la.

Tha terletak lebih dahulu karena tha adalah yang asal (tanpa titik). Selain itu dalam lafal ABI JAD tha lebih dahulu.

Huruf selanjutnya adalah ain dan ghain, sebagaimana huruf-huruf Mazduj (berpasangan) yang lain. Ain didahulukan dari ghain dengan alasan Thariqul Makhraj (urutan tempat keluarnya huruf) dan Jihatul I'jam (yang tidak bertitik didahulukan).

Setelah huruf-huruf yang berpasangan adalah huruf-huruf yang terpisah (tidak berpasangan). Yaitu fa' dan qaf. Fa' dalam lafal ABI JAD ditulis setelah Ain begitu juga dengan qaf.

Kemudian huruf kaf, lam, mim, dan nun sesuai dengan urutan penulisannya dalam lafal KALAMUN. Urutan huruf tersebut juga sesuai dengan urutan tempat keluarnya huruf mulai dari tenggorokan bagian atas.

Lam diletakkan terlebih dahulu ketimbang mim dan nun karena lam sama karaktemya dengan huruf alif yang berada pada urutan pertama.

Mim terletak sebelum nun karena mim lebih dominan dan tampak dalam pengucapan, tidak seperti nun yang misalnya dengan hukum idhgham pengucapannya tidak nampak bahkan hilang (Khaisyum).

Selain itu mim sama makhrajnya dengan huruf ba yang menempati urutan kedua setelah alif dan nun akan hilang pengucapannya jika bertemu ba.

Setelah itu huruf wawu, ha, dan yaa. Wawu diletakkan lebih dahulu karena wawu mempunyai kemiripan karakter dengan huruf fa'. Ha terletak sebelum yaa karena lebih dahulu dalam lafal ABI JAD.

Ya menempati urutan terakhir dalam huruf hijaiyyah karena uniknya huruf yaa tersebut ketika terletak pada akhir kalimat berbeda dengan ketika berada di awal dan di tengah.

Penduduk Maghrib menuliskan setelah ra adalah huruf za, tha dan dza. Karena tha sama makhrajnya dengan huruf dal dan dza dengan dzal, Tha terletak sebelum dza karena alasan Plain (sama dengan argumentasi penduduk Masyriq di atas).

Kemudian kaf, lam, mim, dan nun sesuai dengan urutan lafal kalimna dan sesuai dengan lafal ABI JAD.

Setelahnya adalah shad dan dhad sesuai dengan urutan penulisan lafal setelah KALAMUN yaitu SHA'AFADHUN. Selain itu karena shad asli dan tidak bertitik. 'Ain dan ghain, fad dan qaf, sin dan syin, alasannya adalah karena masalah makhraj dan i'jam.

Terakhir adalah ha, wawu, dan yaa. Ha terletak lebih dahulu sebelum wawu dan yaa karena ha berada di awal pada Lafal HAWAZUN. Begitu juga wawu pada lafal HATHIYYUN.

Dari Ibrahim bin Khuttab, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah, dari Ahmad bin Badil Al Ayyamy, dari Amr bin Hamid hakim kota ad Dainur, dari Farat bin as Saib dari Maimun bin Mahran, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Segala sesuatu ada penjelasan (tafsir)nya yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya”.

Kemudian ia menjelaskan makna dari:

  • ABU JAD (aba adamu at ta'ah / Adam enggan taat dan bersikukuh untuk memakan buah pohon larangan),
  • HAWAZUN (zalla fa hua minas samai wal ardl/ tereliminasi dari langit dan bumi),
  • HATHIYYUN (hutthath 'anhu khatayahu / Adam diampuni kesalahannya),
  • KALAMUN (akalaminas syajarah wa munna `alaihi bit taubah/ memakan buah dari pohon larangan dan dianugerahi ampunan),
  • SHA'AFADHUN (asha fa akhraja minan na'im ilan nakdy / ia berbuat maksiat sehingga Allah mengeluarkannya dari kenikmatan (surga) menuju kepayahan (dunia),
  • QURAISIYAT (aqarra bidz dzanbi fa amanal 'uqubah/ ia mengakui kesalahan- nya dan akhirnya selamat dari siksa).

Dari Abdur Rahman bin Ahmad al Harwy dalam kitabnya, dari Umar bin Ahmad bin Syahin dari Musa bin Ubaidillah dari Abdullah bin Abi Sa'id dari Muhammad bin Hamid dad Salamah bin Al fadl dad Abu Abdillah al Bajaly, ia berkata: “Abu Jad, Hawaz, Hathy, Kalamun, Sha'afadlun dan Quraisiyat adalah nama-nama raja Madyan”.

Adapun nama raja Madyan yang ada pada kisah dalam Al Quran pada zaman Nabi Syu'aib yang terkenal dengan tragedi yaumudz dzullah adalah Kalamun.

Abu Amr berkata: “Sebagian ahli nahwu mengatakan bahwa lafal Abu Jad, Hawaz, Hathiy, adalah lafal Arab seperti halnya lafal Zaid dan Amr dalam hal tashrif. Adapun Kalamun, Sha'afashun dan Quraisiyat bahasa Arab sehingga tidak bisa ditashrif, kecuali untuk fatal Quraisiyat bisa ditasrif seperti lafal Arafat dan Adzri'at”

Ibnu an Nadim pada salah satu bab berjudul Al Kalam ala al Qalamil 'Araby dalam kitab At Fihrist mengatakan: “Terdapat perbedaan pendapat tentang siapakah yang pertama kali membuat tulisan Arab”.

Hisyarn al Kalby mengatakan: “Orang yang pertama kali membuatnya adalah sebuah kaum dari Arab, 'Aribah yang singgah pada kabilah 'Adnan bin Ad. Nama-nama mereka adalah Abu Jad, Hawaz, Hathiy, Kalamun, Sha'afasadlun, Quraisat”, demikianlah menurut Ibnul Kufy.

Kemudian mereka membuat tulisan yang didasarkan kepada sama-nama mereka. Kemudian mereka menemukan huruf-huruf yang tidak ada dalam nama mereka yaitu tsaa , khaa , dzal, dza, syin dan ghain.

Mereka menamakan huruf-huruf ini dengan istilah ar Rawadif (yang sama). Ia berkata: “Mereka adalah nama raja-raja Madyan. Mereka binasa pada tragedi yaumudz dzullah pada zaman Nabi Syu'aib”.

Quthrub mengatakan dalam penulisan Abu tidak memakai wawu dan Jad tidak memakai alif. Ada sebagian orang yang pantang mengulang huruf yang telah disebutkan (alif).

Karena pada dasarnya penulisan wawu pada Abu dan alif pada Jad adalah sebagai penambahan dalam cara baca. Oleh karena itu bagi yang sudah tahu tidak perlu menuliskannya demi menjaga keotentikan lafal tersebut.

32 Huruf dalam Metode Struktur dan Format Al Quran

Orang yang pertama kali mengembangkan huruf hijaiyyah menjadi 32 huruf adalah ilmuwan muslim berkebangsaan India bemama Fadlullah Astarabadi pada akhir abad ke 14.

Sejarah membuktikan antara angka Arab dan India mempunyai kaitan erat. Misalnya angka Nol yang memungkinkan terbentuknya operasi matematika yang sangat rumit. Jauh sebelum Ilmuwan Islam mengenal nol, bangsa India telah mengenalnya sebagai "Shunya" atau kekosongan.

Dalam kajian metode struktur dan Format Al Quran, kita mengenal 32 huruf hijaiyyah. Huruf ke 31, dalam kajian ini karakter huruf lam dan alif [ﺍﻝ] yaitu huruf ke 27 dikembangkan melalui sebuah kajian yang intensif dan bersifat empiris spiritual dengan meletakan alif yang asalnya di depan menjadi di belakang dan diletakkan dalam urutan huruf ke 31.

Sedangkan huruf ke 32, Ta' marbuthah merupakan pengembangan karakter huruf Ta' maftuhah (huruf ke 3) ketika terletak di belakang kata.

Uniknya, sekalipun huruf hijaiyyah sudah dikembangkan sedemkian rupa menjadi 32 huruf tetap saja imbang. Artinya, 16 huruf mu'jam (bertitik) dan 16 huruf Ghairul Mu'jam (tanpa titik). Semoga bermanfaat.

Keterangan:

· Makhraj-Makhraj Huruf

Makhraj ialah tempat menahan/menyekat udara ketika bunyi huruf dilafazkan. Huruf yg dimaksudkan ialah huruf Hija'iyah bahasa arab yg mengandungi 28 huruf. Menurut pendapat Imam Al-Khalil Bin Ahmad dan kebanyakan Ahli Qiraat serta Ulama Nahu antaranya Imam Ibnu Al-Jazari. Jumlah bilangan makhraj yg umum terbahagi kepada 5 Bagian.

o Bagian rongga mulut dan rongga kerongkong ( Al-Jauf )

o Bagian kerongkong ( Al-Khalk )

o Bagian lidah ( Al-Lisan )

o Bagian bibir mulut ( Asy-Syafatan )

o Bagian hidung ( Al-Khaisyum )

Wallahu A'laam


KUASAI AL-QURAN DENGAN LAHJAH ARAB

Nukilan oleh Ibnu Shahr As-Saalanury dari W. Rahimah Draman

ISLAM itu indah dan Allah SWT hanya menyukai yang indah. Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah kitab terindah yang tiada tandingan.

Keindahan al-Quran tidak boleh disaingi oleh apa-apa dan sesiapa pun dari dulu, kini dan selamanya. Malah ia akan kekal indah sampai kiamat, itu jaminan Allah SWT sebagaimana mafhum-Nya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian al-Quran selama-lamanya). (al-Hijr: 9)




Namun keindahan mukjizat paling agung kurniaan Allah kepada Rasulullah SAW untuk umatnya dan seluruh isi alam yang melengkapi semua isi kitab-kitab terdahulu itu tidak bermakna jika al-Quran tidak dibaca, dipelajari, diamal dan dimanfaatkan sebaiknya.

Ini kerana keindahan ayat-ayat al-Quran hanya hidup dan menjalar ke sanubari setiap mukmin jika ia dijadikan bacaan harian dan beramal dengannya.

Antara prasyarat bagi mendapatkan nur, hidayah dan petunjuk dari al-Quran pula, ia hendaklah dibaca secara bertartil, bertajwid dan mengikut qiraat-qiraat yang betul serta menepati kaedah Bahasa Arab.

Terkesan

Arahan ini terkandung dalam firman Allah SWT yang mafhumnya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan mu Yang menciptakan. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. (al-‘Alaq: 1-3).

Dalam ayat lain, Allah berfirman: ... Dan bacalah Al Quran itu dengan bertartil. (al-Muzzammil: 4).

Sebabnya, susunan ayat-ayat al-Quran lebih indah dan terkesan lagi mengasyikkan bukan hanya kerana ia mukjizat yang menjadi cahaya petunjuk untuk seluruh isi alam, tetapi juga kerana burdah-burdah (bunga-bunga) bahasanya.

Lebih-lebih lagi apabila burdah-burdah bahasa al-Quran itu dialun secara bertarannum mengikut kepelbagaian jenis tarannum sama ada secara bayaati, soba’, hijaz, nahwand, sikah atau warst yang berseni dan unik itu.

Alunan dari ayat-ayat al-Quran tidak akan dapat ditandingi mana-mana melodi muzik dari lirik lagu-lagu pop mahupun bait-bait syair tersohor rekaan manusia.

Keluasan cabang seni al-Quran yang meliputi seluruh isi alam pula boleh dilafaz dalam bermacam qiraat sesuai dengan kelaziman loghat sebutan orang-orang Arab ajam (Arab biasa).

Ia sama ada mengikut qiraat riwayat Qalun, Warsy, Hafs, Ad-Duri, As-Susi, Al-Bazi, Qunbul, Hisyam, Ibnu Zakwan, Syu’bah, Khallad, Al-Harith atau Khalaf melalui manhaj imam-imam qiraat yang diiktiraf oleh jemaah ulama qiraat.

Ini kerana dalam melafaz dan mempelajari kandungan al-Quran, aspek tajwid, qiraat dan tarannum adalah pakej wajib yang melengkapkan keilmuan Kalam Allah itu jika kita mahu mengekalkan al-Quran sebagai imam dan mengharap mati dalam petunjuk-Nya.

Untuk itu, tegas Pensyarah Jabatan Al-Quran dan Al-Sunnah Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Sabri Mohamad, setiap huruf dalam ayat-ayat al-Quran mestilah diberi hak masing- masing yang wajib ditunaikan dalam pembacaan.

Katanya, makhraj dalam setiap 29 huruf hijaiyyah yang terkandung dalam al-Quran mempunyai hak sebutan tersendiri masing-masing.

“Sebab itulah membaca al-Quran secara bertartil iaitu dengan bertajwid, berqiraat dan bertaranum adalah suatu tuntutan,” jelasnya.

Beliau memberitahu demikian ketika membicarakan mengenai ‘Menghalusi Makhraj Huruf-huruf Hijaiyyah’ pada Bengkel Tahsin Al-Qiraat kelolaan Masjid Negara di Kuala Lumpur, baru-baru ini.

Mengembangkan

Bengkel sehari yang disertai kira-kira 200 pencinta al-Quran sekitar ibu kota itu adalah antara usaha Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) melalui Masjid Negara bagi mengembangkan ilmu kepelbagaian bacaan qiraat dan tarannum al-Quran kepada masyarakat.

Sabri bagaimanapun mengingatkan, agar seseorang tidak mudah taksub dan berbangga dengan kemampuan menghafaz dan membaca ayat-ayat al-Quran.

“Al-Quran bukan milik kita. Allah boleh ‘ambil’ al-Quran daripada seseorang pada bila-bila masa Dia mahu.

“Apabila Allah sudah ‘ambil balik’ al-Quran dari seseorang, akan lupalah kita pada ayat-ayat tersebut walaupun ia ayat lazim yang menjadi bacaan wajib dalam solat,” ujarnya.

Sementara itu, Penolong Pengarah Unit Khidmat Sosial Masjid Negara, Mohd. Ali Sarbini pula menasihatkan masyarakat khususnya ibu bapa agar tidak terlalu ekstrem dengan al-Quran.

Katanya, jangan pula ibu bapa menghantar semua anak-anak ke sekolah tahfiz dan mengabaikan ilmu-ilmu lain kerana mengharapkan syafaat al-Quran selepas mati.

“Syafaat al-Quran yang diharapkan dari anak-anak tidak akan sampai jika ibu bapa sendiri tidak solat dan tidak ambil tahu tentang kitab suci ini,” jelasnya.

Mengenai melagukan ayat al-Quran pula, pensyarah tarannum dari Jakim, Ahmad Mustafa Mohd. Sidin berkata, seseorang perlu mengalunkan ayat-ayat dari Kalam Allah itu mengguna keaslian suara masing-masing.

Menurutnya, nilai suara yang baik dan berkualiti adalah yang menepati lahjah Bahasa Arab yang betul.

“Adalah suatu kesalahan besar jika ayat-ayat al-Quran dilafaz mengikut lahjah kedaerahan yang bukan berlahjah Arab yang betul,” jelasnya.

Sehubungan itu, kata Ahmad Mustafa, penting bagi setiap muslim berusaha meluangkan masa untuk mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu al-Quran.

Al-Quran menurut beliau, tidak boleh dipelajari melalui buku-buku bacaan, cakera padat dan Internet sebaliknya wajib secara bertalaqqi dengan guru-guru bertauliah yang mahir dan berilmu secara berdepan.

Oleh itu, luangkanlah masa anda walau hanya 10 minit setiap hari untuk berbicara terus dengan Allah s.w.t. melalui Kalam Nya dengan membaca al-Quran.

Allah SWT berfirman dalam mafhum-Nya: Dan al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (al-An’aam: 155).

Wallahu A'lam


TAJUK: ADAKAH TALAQQI ANDA SUATU HUJJAH?

Nukilan oleh Ibnu Shahr As-saalanury dari Ikmal Zaidi Bin Hashim


قال الله : وإنك لتلقى القرءان من لدن حكيم عليم

Ayat di atas secara jelas memberitahu kepada kita bahawa Al-Quran dan Talaqqi merupakan dua perkara yang tidak dapat dipisahkan, bahkan ia adalah satu-satunya cara Al-Quran disampai,dipindah dan diperturunkan seawal penurunannya kepada Rasulullah S.A.W seterusnya para sahabat dan begitulah sunnahnya generasi ke generasi sehingga hari Kiamat.


Apabila kita menyentuh persoalan hujjah bermakna kita ingin mengetahui sejauh mana sesuatu perkara itu mempunyai "kekuatan" dalam menegak dan mempertahankan sesuatu dasar,pendapat,tafsiran dan perkara-perkara lain supaya ianya diperakukan dan diterimapakai oleh semua pihak. Maka persoalan yang ingin penulis ajukan di sini ialah sejauh mana kekuatan TALAQQI itu di dalam menjadi hujjah pada satu-satu situasi. Situasi yang dimaksudkan di sini ialah apabila kita berhadapan dengan mereka yang sering berkata " saya talaqqi dengan Syeikh macam tu.."atau "saya baca dengan ustaz saya macam ni…" apabila berlaku perselisihan dan perbezaan pendapat di dalam masalah yang berkaitan dengan cara-cara bacaan seumpama panjang-pendek mad, ikhfa', idgham, ikhtilas, isymam, raum, imalah dan lain-lain. Adakah frasa atau ungkapan tersebut semata-mata boleh menjadi hujjah? Seterusnya mampukah ia digunakan oleh semua orang yang bertalaqqi tanpa mengira latar belakangnya terutamanya tahap keilmuannya? Adakah semua orang mempunyai kemampuan yang sama dalam bertalaqqi?


Sesungguhnya talaqqi Al-Quran itu bermaksud mempersembahkan bacaan Al-Quran sepertimana yang didengar atau dilihat daripada guru dengan diperhatikan dan dipimpin bacaan tersebut agar tepat dan betul. Dikenali juga dengan Al-Musyafahah dan Al-A'rd. Ia merupakan proses pembelajaran interaktif yang menjadi sunnah para Qurra' dan Ulamak bukan sahaja di dalam pengajian Al-Quran bahkan semua bidang ilmu Islam. Apabila bertalaqqi, kita akan sedaya upaya "meniru" gaya dan cara bacaan guru kita sama ada sebutan huruf, panjang-pendek dan sebagainya. Namun hakikatnya talaqqi yang sebenar jauh lebih luas daripada hanya sekadar peniruan gaya dan cara ( ( التقليد Al-Imam Ibnu Mujahid[1] seawal kurun keempat telah menjawab persoalan ini.Beliau berkata di dalam kitabnya السبعة : Di kalangan حملة القراءات [2] ada empat golongan :


1) Yang mu'rib[3] dan alim mengenai wajah-wajah I'rab(ilmu Nahu dan Saraf) dan Qiraat.[4]Juga yang mengetahui ilmu Al-Lughat(termasuk Lahajat Al- Arabiyyah) dan makna-makna kalimah.[5]Juga yang mengenal kelemahan-kelemahan dalam Al-Qiraat serta yang mengetahui ilmu Al-Riwayat.[6]Mereka inilah yang dipanggil Al-Imam.

2)Yang mu'rib walaupun tiada ilmu mengenai I'rab,mereka ini adalah Al-A'rabi yang membaca semata-mata berdasarkan amalan kebiasaan di dalam pertuturan seharian mereka.

3)Mereka yang membaca berdasarkan apa yang dipelajari secara praktikal, tiada ilmu mengenai I'rab mahu pun ilmu-ilmu lain yang disebutkan di atas.Mereka semata-mata menghafal, tidak mustahil pada suatu hari mereka akan lupa maka mengakibatkan kesalahan I'rab, mereka hanya bergantung kepada apa yang dihafal dan yang didengar semata-mata tanpa bersandarkan kepada apa-apa ilmu yang berkaitan. Akibatnya mereka akan keliru seterusnya melakukan kesalahan tanpa disedari atau sedar tetapi terus mempertahankan bacaan mereka semata-mata berhujjahkan talaqqi mereka. Mereka ini tidak sepatutnya diikuti dan talaqqi mereka tidak boleh dijadikan hujjah.

4) Mereka yang mempunyai ilmu-ilmu yang disebutkan tadi tetapi tiada ilmu tentang Qiraat dan riwayat. Mereka ini ditakuti akan membaca dengan bacaan-bacaan yang mereka rasakan betul daripada segi Nahu walau pun tidak thabit daripada segi Qiraat (iaitu tidak dibaca oleh mana-mana Imam).[7]

Klasifikasi oleh ibnu Mujahid ini jelas menunjukkan bahawa talaqqi yang menjadi hujjah itu bergantung kepada sejauh mana ilmu dan kefahaman orang yang bertalaqqi itu sendiri terhadap apa yang ditalaqqinya. Kefahaman ini meliputi segala tatacara bacaan secara ilmiyyah tidak semata-mata samai'yyah,nazariyyah(teori) tidak hanya tatbiqiyyah(praktikal) serta berdasarkan dirayah tidak hanya riwayah. Maka sekiranya syarat-syarat ini dipenuhi, maka talaqqi golongan ini dikira sebagai hujjah.

Sementara golongan yang kedua dan ketiga, mereka tidak layak untuk berhujjah dengan talaqqi kerana tiada ilmu, mereka hanya bersandarkan saliqah(kemampuan berbahasa kerana kearaban) sepertimana golongan kedua dan sama'iyyah serta hafalan(golongan ketiga).

Manakala golongan keempat, ketiadaan ilmu Qiraat dan Riwayat menyebabkan mereka juga tidak layak untuk dikuti di dalam bidang bacaan Al-Quran walau pun mereka adalah ulama'.

Ibnu Mujahid agak panjang ketika memberi komen terhadap golongan yang ketiga. Mungkin disebabkan ramainya golongan yang mendakwa kesahihan Qiraat mereka pada kurun keempat hijrah yang menyebabkan beliau meletakkan kriteria-kriteria tersebut di dalam memilih Qiraat sepertimana disebutkan pada golongan yang pertama (yang digelar al-Imam).

Hakikatnya golongan ketiga inilah yang sering menjadikan talaqqi sebagai hujjah tanpa menyedari erti talaqqi yang sebenar. Mereka hanya bersandarkan "peniruan" mereka terhadap gaya bacaan guru tanpa mengetahui segala ilmu yang berkaitan dengan tatacara yang dituruti itu. Sebagai contoh: Seseorang itu telah khatam 30 juzuk Al-Quran tetapi tidak pernah belajar ilmu tajwid atau pun belajar tanpa menguasainya. Bacaan Al-Qurannya yang banyak salahnya itu telah ditegur oleh seorang yang lain yang mungkin belum khatam tetapi bacaannya agak baik kerana pengetahuan tajwid yang ada padanya. Lalu yang ditegur itu tidak mahu mengaku kesalahannya semata-mata kerana dia telah khatam dan mengatakan " saya baca dengan ustaz macam tu ". Situasi seumpama ini mungkin berlaku akibat ketidakfahaman terhadap konsep talaqqi yang sebenar iaitu talaqqi yang bersandarkan ilmu, bukan sahaja ilmu Tajwid dan Qiraat yang menyentuh soal kaedah-kaedah sebutan yang fasih seperti mana yang ditetapkan oleh para ulama', bahkan melampaui ilmu-ilmu yang berkaitan bahasa Al-Quran itu sendiri.

Tidak dapat dinafikan bahawa talaqqi adalah rukun utama di dalam memastikan kesahihan sumber bacaan kita secara bersanad daripada guru yang bersambung dengan Rasulullah S.A.W, namun talaqqi akan terdedah kepada kesalahan jika tidak disertai dengan ilmu yang berkaitan dengannya bagi memastikan kesahihan setiap bacaan yang ditalaqqi. Sebagai contoh : jika ada orang mempersoalkan cara sebutan huruf (ض) yang kita sebut, maka sewajarnya kita menjawab " saya talaqqi begini dengan guru saya, kerana huruf ini sifatnya…….dan makhrajnya……di dalam kitab …….dan sebagainya". Barulah layak bagi kita untuk menjadikan talaqqi kita itu suatu hujjah.

Persoalan ini sengaja diutarakan oleh penulis agar kita bermuhasabah dan menyedari bahawa untuk menjadi seorang yang mahir dengan Al-Quran bukanlah semudah yang disangka. Buktinya bukan semua sahabat Rasulullah menjadi Muqri' tetapi hanya sebilangan sahaja seumpama Ubay bin Kaab, Zaid bin Thabit, Uthman bin Affan, Abu Musa Al Asyari dan lain-lain. Seterusnya bukan mudah untuk menagih janji Allah sepertimana disebut di dalam hadith:الماهر بالقرءان مع السفرة الكرام البررة dan untuk menjadi أهل الله وخاصته . Tidakkah kemulian ini suatu anugerah Allah kepada mereka yang meniti di bibir mereka ayat-ayat suciNya sepertimana ia meniti di bibir kekasihNya S.A.W? Maka dengan itu sama-samalah kita tingkatkan penguasaan ilmu kita dengan bersungguh-sungguh. Sesungguhnya ilmu yang ditimba dengan hati yang penuh ikhlas serta kesedaran yang jitu akan membuahkan taqwa. Firman Allah :

واتقوا الله ويعلمكم الله والله بكل شىء عليم




[1]Al-Imam Abu Bakr Ahmad bin Musa(245H-324H),yang bertanggungjawab memilih 7 Qurra dan Qiraat mereka yang dikenali dengan Al-Qiraat As-Saba'h yang seterusnya menjadi ijma' seluruh umat Islam di atas kemutawatirannya.

[2] Bermaksud mereka yang terlibat di dalam Al-Qiraat dan Al-Iqra' iaitu yang membaca dan menyampaikan bacaan Al-Quran kepada orang lain.

[3] Bermaksud yang mengamalkan I'rab dan tidak melakukan Al-Lahn (kesalahan Nahu) di dalam pertuturan mereka.

[4] Wajah-wajah Qiraat bermaksud perbahasan ilmu taujih al-Qiraat.

[5] Ilmu ini juga dikenali dengan Ilmu Al- Dalalat Al-Lughawiyyah.

[6] Iaitu ilmu mengenai sistem periwayatan,sanad dan sebagainya sepertimana di dalam Ulum Al-Hadith.

[7] Diolah daripada petikan daripada kitab Al-Saba'h.

Wallahu A'lam

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Pusat Bimbingan Al-Quran Syathibiyyah

KEM Bimbingan IMAM MUDA & TAHFIZ 2010

Seminar Al-Quran Muslimah 2010 anjuran PBQS di Madrasah Taufiqiyah Padang Tembak, Teluk Intan,Perak.

Kursus Pemantapan Al-Quran Remaja 2010 anjuran PBQS & SRAR Bandar Teluk Intan di Teluk Intan, Perak.

PBQS bersama Juri Akademi Quran Ust. Radhi Kamarul Hailan di Seminar Thahsin Qiraat, Shah Alam.

PBQS bersama Juara Akademi Quran Ust. Anuar Hasin di ILDAS, Sabak Bernam.

PBQS menziarahi Syeikh Al-Quran A.F Ust. Zunaiddin di UIAM, Gombak.