PBQS

widgeo.net
Pt.1106,No.14,Jalan Gemilang 1,Taman Gemilang,45300 Sungai Besar, Selangor.

Jumaat, 16 Julai 2010

Sejarah Huruf Hijaiyyah

Riwayat Sejarah
Nukilan Oleh Ibnu Shahr As-Saalanury dari balliqul-ilm.blogspot.com
Sejarah Huruf Hijaiyyah

Salah satu pembahasan yang terpenting dalam kajian Metode Struktur dan Format Al Quran adalah struktur abjad (huruf hijaiyyah).

Struktur huruf menurut prespektif kajian ini merupakan representasi dari organ atau titik-titik (sub struktur) dalam tubuh manusia secara fisik namun lebih lengkap dan detil dibandingkan dengan struktur 'ain. Karena struktur 'ain hanya representasi dari organ-organ vital manusia.

Pada awalnya, pemaknaan masing-masing huruf menjadi sebuah representasi dari organ tertentu, memang menggunakan pendekatan mistis, tetapi kemudian dikembangkan dan diterapkan sehingga bersifat empiris.

Riwayat Sejarah

1. Dari Abdurrahman bin Usman, dari Qasim bin Asbagh, dari Ahmad bin Zuhair, dari al Fadl bin Dakkin, dari Wail dari Jabir dari Amir dari Samurah bin Jundab, ia berkata: "Saya telah melakukan pengkajian terhadap asal muasal tulisan Arab. Saya temukan tulisan Arab telah ada dan digunakan suku Al Anbar sebelum suku Hiyarah mempergunakanya”.

2. Dari Ibnu Affan dari Qasim dari Ahmad dari az Zubair bin Bakkar, dari Ibrahim bin al Mundzir, dari Abdul Aziz bin lmran, dari Ibrahim bin Ismail bin Abi Hubaib dari Dawud bin Husain dari lkrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Orang yang pertama kali mengucapkan bahasa Arab dan membuat tulisan lafalnya adalah Ismail bin Ibrahim."

3. Dari Ahmad bin Ibrahim bin Faras Al Makky, dan Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad, dari kakeknya, dari Sufyan bin 'Uyainah dari Mujalid, dari as Sya'by, ia berkata: "Kami ditanya orang-orang muhajirin: "dari mana kalian belajar menulis? Kami menjawab: "dari penduduk suku Hiyarah. Kemudian orang-orang Muhajirin mengklarifikasi berita itu kepada penduduk Hiyarah. Mereka bertanya: "Dari mana kalian belajar menulis? Penduduk suku Hiyarah menjawab: "Kama belajar dari: suku Anbar".

Abu 'Amr mengatakan: "Dalam kitab Muhammad bin Sahnun terdapat riwayat sebagai berikut: Dari Abul Hajjaj yang mempunyai nama asli Sakan bin Tsabit berkata: dari Abdullah bin Farukh dari Abdur Rahman bin Ziyad bin An'am al Mu'afiry dari ayahnya Ziyad bin An'am ia berkata: "saya berkata kepada Abdullah bin Abbas: "Wahai suku Quraisy, apakah kalian pada zaman jahiliyyah menulis dengan tulisan Arab seperti ini, kalian menggabungkan huruf tertentu dan memisah huruf tertentu, ada alif, lam, mim, syakl, qath' dan lain-lain sebelum Allah mengutus Nab' SAW?"

Ia menjawab: “ya”,

Lalu aku berkata: ‘Siapa yang mengajari kalian menulis?”.

Ia menjawab: “Harb bin `Umayyah”.

Aku bertanya lagi: "Lalu siapa yang mengajari Harb bin Umayyah?”.

Ia menjawab: “Abdullah bin Jud'an”.

Aku bertanya lagi: “Siapa yang mengajari Abdullah bin Jud'an?”.

Ia menjawab: "Penduduk Al Anbar".

Aku bertanya lagi: “Siapa yang mengajari penduduk Al Anbar?”.

Ia menjawab: “Seseorang yang datang dari tanah Yaman, dari suku Kindah”.

Aku bertanya lagi: “Lalu siapakah yang mengajarkan seseorang tersebut?”.

Ia menjawab: "Al Juljan bin Al Muhim, ia adalah sekretaris nabi Hud as untuk menuliskan Wahyu dari Allah SWT."

Dari Ibnu Affan, dari Qasim, dari Ahmad bin Abi Khaitsamah ia berkata: "Huruf Hijaiyyah berjumlah 29 huruf, semua lafal dan tulisan Arab tidak bisa lepas dari huruf tersebut."

Dari Ibrahim bin Al Khattab al Lama'iy, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah dari Ahmad bin Musa bin Ismail al Anbary dari Muhammad bin Hatim Al Muaddib dari Ahmad bin Ghassan dari Hamid bin Al Madainy dari Abdullah bin Said, ia berkata: “Telah sampai kepada kita sebuah riwayat bahwa ketika huruf-huruf Mu'jam yang berjumlah 29 menghadap Yang Maha Pengasih, huruf Alif merendahkan diri dihadapan-Nya. Allah terkesan dengan sikap rendah hatinya, lalu Dia menjadikan alif sebagai awalan dari nama-Nya (Allah)”.

Abu Amr berkata: “Sebagian ahli bahasa mengatakan alasan alif menempati urutan pertama karena alif merupakan representasi dari hamzah yang menjadi awal kalimat, alif layyinah, dan hampir semua hamzah.”

Kemudian alif hanya menjadi awal kalimat tatkala huruf yang lain yaitu wawu dan yaa ikut merepresentasikan dirinya yang pada keadaan yang lain berbentuk hamzah di tengah dan di akhir.

Abu Amr berkata “Alasan kenapa setelah huruf alif adalah huruf baa, taa, tsaa adalah karena huruf tersebut adalah huruf yang paling banyak menyerupai huruf yang lain, di mana jika huruf yaa dan nuun terletak pada awal kalimat atau di tengah kalimat maka akan menyerupainya sehingga kalau di jumlah ada 5 huruf yang berkarakter sama. Oleh karena itu untuk mengantisipasi dan mencari jalan keluamya adalah dengan mendahulukan urutannya. Kemudian urutan setelah baa, taa, tsaa adalah jiim, haa, khaa."

Tertib urutan huruf yang serupa (mutasyabihat) dan Mazdujat (dal, dzal, ra' dan lain-tain) adalah sesuai dengan sedikit atau banyaknya frekwensi dipergunakan dalam percakapan. Jadi semakin depan urutannya, semakin banyak digunakan dalam percakapan. Kecuali untuk huruf nun dan yaa sekalipun kedua huruf tersebut diakhirkan namun ia mempunyai derajat yang sama dengan huruf yang menempati urutan di depan karena huruf yang menyerupai karaktemya telah di tempatkan di depan (ba, ta, tsa).

Selanjutnya Abu Amr mengatakan diantara huruf ada juga yang tidak bisa disambung dengan huruf yang lain setelahnya. Jumlahnya ada 6 yaitu : alif, dal, dzal, ra, za, dan wawu.

Alasan kenapa huruf tersebut tidak bisa disambung dengan huruf yang lain juga sama dengan di atas yaitu untuk menghindari keserupaan antar huruf. Andaikata alif bisa disambung dengan huruf lain setelahnya, akan serupa dengan huruf lam, dan wawu akan sama dengan huruf fa dan qaf, dan dal, dzal, ra, za akan sama dengan yaa dan ta.

Alasan lain yang dikemukakan Abu Amr tentang rahasia di batik urutan huruf hijaiyyah adalah: Alif menempati urutan pertama karena dua alasan yaitu berdasarkan Khabar (tentang sikap rendah diri Alif di hadapan Allah) dan Nadzar (pemyataan ahli bahasa yang telah dijelaskan di atas).

Selain itu karena Alif menjadi awal dari ayat surat Al Fatihah yang merupakan induk Al Quran dan karena seringnya digunakan dalam tulisan dan percakapan.

Bisa disimpulkan huruf alif adalah huruf yang hampir seluruh kata tidak bisa dan tidak mungkin terlepas darinya dan paling banyak diulang dan digunakan dalam percakapan.

Kemudian huruf setelah alif adalah huruf baa, taa, tsaa. Oleh karena ketiga huruf tersebut yang terbanyak mempunyal karakter yang sama maka tradisi pun mengikutinya untuk menulisnya setelah alif.

Alasan kenapa huruf ba terletak setelah huruf alif adalah karena huruf ba menjadi awal dari Basmalah setelah sebelumnya huruf alif menjadi awal Ta'awwudz. Selain itu, ba menempati urutan kedua setelah alif dalam rumusan huruf Arab (hija) kuno yaitu lafal AB' JADIN.

Alasan lain yaitu karena ba bertitik satu, ta bertitik dua, dan tsa bertitik tiga. Jadi sesuai dengan urutan angka. Oleh karena itu ba menempati urutan pertama, ta kedua dan tsa ketiga.

Ada juga yang mengatakan alasannya adalah karena sedikit atau banyaknya frekwensi penggunaannya dalam kalimat sehingga yang didahulukan adalah yang paling banyak frekwensinya.

Kemudian huruf jim, ha, dan kha. Ketiganya paling banyak mempunyai karakter dibanding huruf yang lain. Alasan setelah tsa dan jim adalah karena bersambungnya huruf jim setelah ba pada lafal ABI JAD.

Selain itu ha diletakkan sebelum kha karena sesuai dengan urutan makhraj (tempat keluarnya huruf) dimana huruf ha keluar dari tengah tenggorokan dan kha dari tenggorokan bagian atas. Sehingga ha diletakan lebih dulu dari kha.

Setelah itu huruf dal dan dzal. Keduanya berkarakter sama. Dal ditempatkan lebih dulu karena terletak setelah huruf jim pada lafal ABI JAD.

Kemudian ra dan za. Keduanya juga mempunyai karakter sama. Semua huruf yang berpasangan diletakkan secara berurutan dengan alasan yang sama.

Sampai disini urutan penulisan huruf hijaiyyah tidak mengalami perbedaan, baik pada penduduk Masyriq dan Maghrib.

Setelah huruf ra dan za penduduk Masyriq dan Maghrib berbeda pendapat tentang urutan huruf setelahnya. Penduduk Masyriq menulis setelah huruf ra dan za adalah sin dan syin dengan alasan za dan sin mempunyai sifat yang sama: as Shafir.

Sin terletak lebih dahulu ketimbang syin karena yang asal adalah huruf tanpa titik sehingga huruf yang sama karaktemya namun bertitik diletakkan sesudahnya. Yang asal selalu diletakkan pertama dan lebih dahulu ketimbang yang sifatnya far'i (cabang).

Setelah sin dan syin adalah shad dan dhad. Huruf ini pun berkarakter sama dan diletakkan setelah sin karena huruf shad mempunyai sifat sama dengan sin yaitu shafir dan hams.

Kemudian tha dan dza. Keduanya mempunyai karakter yang sama dan sebagaimana huruf-huruf yang lalu tha dan dza mempunyai sifat yang sama yaitu ithbaq dan isti'la.

Tha terletak lebih dahulu karena tha adalah yang asal (tanpa titik). Selain itu dalam lafal ABI JAD tha lebih dahulu.

Huruf selanjutnya adalah ain dan ghain, sebagaimana huruf-huruf Mazduj (berpasangan) yang lain. Ain didahulukan dari ghain dengan alasan Thariqul Makhraj (urutan tempat keluarnya huruf) dan Jihatul I'jam (yang tidak bertitik didahulukan).

Setelah huruf-huruf yang berpasangan adalah huruf-huruf yang terpisah (tidak berpasangan). Yaitu fa' dan qaf. Fa' dalam lafal ABI JAD ditulis setelah Ain begitu juga dengan qaf.

Kemudian huruf kaf, lam, mim, dan nun sesuai dengan urutan penulisannya dalam lafal KALAMUN. Urutan huruf tersebut juga sesuai dengan urutan tempat keluarnya huruf mulai dari tenggorokan bagian atas.

Lam diletakkan terlebih dahulu ketimbang mim dan nun karena lam sama karaktemya dengan huruf alif yang berada pada urutan pertama.

Mim terletak sebelum nun karena mim lebih dominan dan tampak dalam pengucapan, tidak seperti nun yang misalnya dengan hukum idhgham pengucapannya tidak nampak bahkan hilang (Khaisyum).

Selain itu mim sama makhrajnya dengan huruf ba yang menempati urutan kedua setelah alif dan nun akan hilang pengucapannya jika bertemu ba.

Setelah itu huruf wawu, ha, dan yaa. Wawu diletakkan lebih dahulu karena wawu mempunyai kemiripan karakter dengan huruf fa'. Ha terletak sebelum yaa karena lebih dahulu dalam lafal ABI JAD.

Ya menempati urutan terakhir dalam huruf hijaiyyah karena uniknya huruf yaa tersebut ketika terletak pada akhir kalimat berbeda dengan ketika berada di awal dan di tengah.

Penduduk Maghrib menuliskan setelah ra adalah huruf za, tha dan dza. Karena tha sama makhrajnya dengan huruf dal dan dza dengan dzal, Tha terletak sebelum dza karena alasan Plain (sama dengan argumentasi penduduk Masyriq di atas).

Kemudian kaf, lam, mim, dan nun sesuai dengan urutan lafal kalimna dan sesuai dengan lafal ABI JAD.

Setelahnya adalah shad dan dhad sesuai dengan urutan penulisan lafal setelah KALAMUN yaitu SHA'AFADHUN. Selain itu karena shad asli dan tidak bertitik. 'Ain dan ghain, fad dan qaf, sin dan syin, alasannya adalah karena masalah makhraj dan i'jam.

Terakhir adalah ha, wawu, dan yaa. Ha terletak lebih dahulu sebelum wawu dan yaa karena ha berada di awal pada Lafal HAWAZUN. Begitu juga wawu pada lafal HATHIYYUN.

Dari Ibrahim bin Khuttab, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah, dari Ahmad bin Badil Al Ayyamy, dari Amr bin Hamid hakim kota ad Dainur, dari Farat bin as Saib dari Maimun bin Mahran, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Segala sesuatu ada penjelasan (tafsir)nya yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya”.

Kemudian ia menjelaskan makna dari:

  • ABU JAD (aba adamu at ta'ah / Adam enggan taat dan bersikukuh untuk memakan buah pohon larangan),
  • HAWAZUN (zalla fa hua minas samai wal ardl/ tereliminasi dari langit dan bumi),
  • HATHIYYUN (hutthath 'anhu khatayahu / Adam diampuni kesalahannya),
  • KALAMUN (akalaminas syajarah wa munna `alaihi bit taubah/ memakan buah dari pohon larangan dan dianugerahi ampunan),
  • SHA'AFADHUN (asha fa akhraja minan na'im ilan nakdy / ia berbuat maksiat sehingga Allah mengeluarkannya dari kenikmatan (surga) menuju kepayahan (dunia),
  • QURAISIYAT (aqarra bidz dzanbi fa amanal 'uqubah/ ia mengakui kesalahan- nya dan akhirnya selamat dari siksa).

Dari Abdur Rahman bin Ahmad al Harwy dalam kitabnya, dari Umar bin Ahmad bin Syahin dari Musa bin Ubaidillah dari Abdullah bin Abi Sa'id dari Muhammad bin Hamid dad Salamah bin Al fadl dad Abu Abdillah al Bajaly, ia berkata: “Abu Jad, Hawaz, Hathy, Kalamun, Sha'afadlun dan Quraisiyat adalah nama-nama raja Madyan”.

Adapun nama raja Madyan yang ada pada kisah dalam Al Quran pada zaman Nabi Syu'aib yang terkenal dengan tragedi yaumudz dzullah adalah Kalamun.

Abu Amr berkata: “Sebagian ahli nahwu mengatakan bahwa lafal Abu Jad, Hawaz, Hathiy, adalah lafal Arab seperti halnya lafal Zaid dan Amr dalam hal tashrif. Adapun Kalamun, Sha'afashun dan Quraisiyat bahasa Arab sehingga tidak bisa ditashrif, kecuali untuk fatal Quraisiyat bisa ditasrif seperti lafal Arafat dan Adzri'at”

Ibnu an Nadim pada salah satu bab berjudul Al Kalam ala al Qalamil 'Araby dalam kitab At Fihrist mengatakan: “Terdapat perbedaan pendapat tentang siapakah yang pertama kali membuat tulisan Arab”.

Hisyarn al Kalby mengatakan: “Orang yang pertama kali membuatnya adalah sebuah kaum dari Arab, 'Aribah yang singgah pada kabilah 'Adnan bin Ad. Nama-nama mereka adalah Abu Jad, Hawaz, Hathiy, Kalamun, Sha'afasadlun, Quraisat”, demikianlah menurut Ibnul Kufy.

Kemudian mereka membuat tulisan yang didasarkan kepada sama-nama mereka. Kemudian mereka menemukan huruf-huruf yang tidak ada dalam nama mereka yaitu tsaa , khaa , dzal, dza, syin dan ghain.

Mereka menamakan huruf-huruf ini dengan istilah ar Rawadif (yang sama). Ia berkata: “Mereka adalah nama raja-raja Madyan. Mereka binasa pada tragedi yaumudz dzullah pada zaman Nabi Syu'aib”.

Quthrub mengatakan dalam penulisan Abu tidak memakai wawu dan Jad tidak memakai alif. Ada sebagian orang yang pantang mengulang huruf yang telah disebutkan (alif).

Karena pada dasarnya penulisan wawu pada Abu dan alif pada Jad adalah sebagai penambahan dalam cara baca. Oleh karena itu bagi yang sudah tahu tidak perlu menuliskannya demi menjaga keotentikan lafal tersebut.

32 Huruf dalam Metode Struktur dan Format Al Quran

Orang yang pertama kali mengembangkan huruf hijaiyyah menjadi 32 huruf adalah ilmuwan muslim berkebangsaan India bemama Fadlullah Astarabadi pada akhir abad ke 14.

Sejarah membuktikan antara angka Arab dan India mempunyai kaitan erat. Misalnya angka Nol yang memungkinkan terbentuknya operasi matematika yang sangat rumit. Jauh sebelum Ilmuwan Islam mengenal nol, bangsa India telah mengenalnya sebagai "Shunya" atau kekosongan.

Dalam kajian metode struktur dan Format Al Quran, kita mengenal 32 huruf hijaiyyah. Huruf ke 31, dalam kajian ini karakter huruf lam dan alif [ﺍﻝ] yaitu huruf ke 27 dikembangkan melalui sebuah kajian yang intensif dan bersifat empiris spiritual dengan meletakan alif yang asalnya di depan menjadi di belakang dan diletakkan dalam urutan huruf ke 31.

Sedangkan huruf ke 32, Ta' marbuthah merupakan pengembangan karakter huruf Ta' maftuhah (huruf ke 3) ketika terletak di belakang kata.

Uniknya, sekalipun huruf hijaiyyah sudah dikembangkan sedemkian rupa menjadi 32 huruf tetap saja imbang. Artinya, 16 huruf mu'jam (bertitik) dan 16 huruf Ghairul Mu'jam (tanpa titik). Semoga bermanfaat.

Keterangan:

· Makhraj-Makhraj Huruf

Makhraj ialah tempat menahan/menyekat udara ketika bunyi huruf dilafazkan. Huruf yg dimaksudkan ialah huruf Hija'iyah bahasa arab yg mengandungi 28 huruf. Menurut pendapat Imam Al-Khalil Bin Ahmad dan kebanyakan Ahli Qiraat serta Ulama Nahu antaranya Imam Ibnu Al-Jazari. Jumlah bilangan makhraj yg umum terbahagi kepada 5 Bagian.

o Bagian rongga mulut dan rongga kerongkong ( Al-Jauf )

o Bagian kerongkong ( Al-Khalk )

o Bagian lidah ( Al-Lisan )

o Bagian bibir mulut ( Asy-Syafatan )

o Bagian hidung ( Al-Khaisyum )

Wallahu A'laam


KUASAI AL-QURAN DENGAN LAHJAH ARAB

Nukilan oleh Ibnu Shahr As-Saalanury dari W. Rahimah Draman

ISLAM itu indah dan Allah SWT hanya menyukai yang indah. Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah kitab terindah yang tiada tandingan.

Keindahan al-Quran tidak boleh disaingi oleh apa-apa dan sesiapa pun dari dulu, kini dan selamanya. Malah ia akan kekal indah sampai kiamat, itu jaminan Allah SWT sebagaimana mafhum-Nya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian al-Quran selama-lamanya). (al-Hijr: 9)




Namun keindahan mukjizat paling agung kurniaan Allah kepada Rasulullah SAW untuk umatnya dan seluruh isi alam yang melengkapi semua isi kitab-kitab terdahulu itu tidak bermakna jika al-Quran tidak dibaca, dipelajari, diamal dan dimanfaatkan sebaiknya.

Ini kerana keindahan ayat-ayat al-Quran hanya hidup dan menjalar ke sanubari setiap mukmin jika ia dijadikan bacaan harian dan beramal dengannya.

Antara prasyarat bagi mendapatkan nur, hidayah dan petunjuk dari al-Quran pula, ia hendaklah dibaca secara bertartil, bertajwid dan mengikut qiraat-qiraat yang betul serta menepati kaedah Bahasa Arab.

Terkesan

Arahan ini terkandung dalam firman Allah SWT yang mafhumnya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan mu Yang menciptakan. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. (al-‘Alaq: 1-3).

Dalam ayat lain, Allah berfirman: ... Dan bacalah Al Quran itu dengan bertartil. (al-Muzzammil: 4).

Sebabnya, susunan ayat-ayat al-Quran lebih indah dan terkesan lagi mengasyikkan bukan hanya kerana ia mukjizat yang menjadi cahaya petunjuk untuk seluruh isi alam, tetapi juga kerana burdah-burdah (bunga-bunga) bahasanya.

Lebih-lebih lagi apabila burdah-burdah bahasa al-Quran itu dialun secara bertarannum mengikut kepelbagaian jenis tarannum sama ada secara bayaati, soba’, hijaz, nahwand, sikah atau warst yang berseni dan unik itu.

Alunan dari ayat-ayat al-Quran tidak akan dapat ditandingi mana-mana melodi muzik dari lirik lagu-lagu pop mahupun bait-bait syair tersohor rekaan manusia.

Keluasan cabang seni al-Quran yang meliputi seluruh isi alam pula boleh dilafaz dalam bermacam qiraat sesuai dengan kelaziman loghat sebutan orang-orang Arab ajam (Arab biasa).

Ia sama ada mengikut qiraat riwayat Qalun, Warsy, Hafs, Ad-Duri, As-Susi, Al-Bazi, Qunbul, Hisyam, Ibnu Zakwan, Syu’bah, Khallad, Al-Harith atau Khalaf melalui manhaj imam-imam qiraat yang diiktiraf oleh jemaah ulama qiraat.

Ini kerana dalam melafaz dan mempelajari kandungan al-Quran, aspek tajwid, qiraat dan tarannum adalah pakej wajib yang melengkapkan keilmuan Kalam Allah itu jika kita mahu mengekalkan al-Quran sebagai imam dan mengharap mati dalam petunjuk-Nya.

Untuk itu, tegas Pensyarah Jabatan Al-Quran dan Al-Sunnah Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Sabri Mohamad, setiap huruf dalam ayat-ayat al-Quran mestilah diberi hak masing- masing yang wajib ditunaikan dalam pembacaan.

Katanya, makhraj dalam setiap 29 huruf hijaiyyah yang terkandung dalam al-Quran mempunyai hak sebutan tersendiri masing-masing.

“Sebab itulah membaca al-Quran secara bertartil iaitu dengan bertajwid, berqiraat dan bertaranum adalah suatu tuntutan,” jelasnya.

Beliau memberitahu demikian ketika membicarakan mengenai ‘Menghalusi Makhraj Huruf-huruf Hijaiyyah’ pada Bengkel Tahsin Al-Qiraat kelolaan Masjid Negara di Kuala Lumpur, baru-baru ini.

Mengembangkan

Bengkel sehari yang disertai kira-kira 200 pencinta al-Quran sekitar ibu kota itu adalah antara usaha Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) melalui Masjid Negara bagi mengembangkan ilmu kepelbagaian bacaan qiraat dan tarannum al-Quran kepada masyarakat.

Sabri bagaimanapun mengingatkan, agar seseorang tidak mudah taksub dan berbangga dengan kemampuan menghafaz dan membaca ayat-ayat al-Quran.

“Al-Quran bukan milik kita. Allah boleh ‘ambil’ al-Quran daripada seseorang pada bila-bila masa Dia mahu.

“Apabila Allah sudah ‘ambil balik’ al-Quran dari seseorang, akan lupalah kita pada ayat-ayat tersebut walaupun ia ayat lazim yang menjadi bacaan wajib dalam solat,” ujarnya.

Sementara itu, Penolong Pengarah Unit Khidmat Sosial Masjid Negara, Mohd. Ali Sarbini pula menasihatkan masyarakat khususnya ibu bapa agar tidak terlalu ekstrem dengan al-Quran.

Katanya, jangan pula ibu bapa menghantar semua anak-anak ke sekolah tahfiz dan mengabaikan ilmu-ilmu lain kerana mengharapkan syafaat al-Quran selepas mati.

“Syafaat al-Quran yang diharapkan dari anak-anak tidak akan sampai jika ibu bapa sendiri tidak solat dan tidak ambil tahu tentang kitab suci ini,” jelasnya.

Mengenai melagukan ayat al-Quran pula, pensyarah tarannum dari Jakim, Ahmad Mustafa Mohd. Sidin berkata, seseorang perlu mengalunkan ayat-ayat dari Kalam Allah itu mengguna keaslian suara masing-masing.

Menurutnya, nilai suara yang baik dan berkualiti adalah yang menepati lahjah Bahasa Arab yang betul.

“Adalah suatu kesalahan besar jika ayat-ayat al-Quran dilafaz mengikut lahjah kedaerahan yang bukan berlahjah Arab yang betul,” jelasnya.

Sehubungan itu, kata Ahmad Mustafa, penting bagi setiap muslim berusaha meluangkan masa untuk mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu al-Quran.

Al-Quran menurut beliau, tidak boleh dipelajari melalui buku-buku bacaan, cakera padat dan Internet sebaliknya wajib secara bertalaqqi dengan guru-guru bertauliah yang mahir dan berilmu secara berdepan.

Oleh itu, luangkanlah masa anda walau hanya 10 minit setiap hari untuk berbicara terus dengan Allah s.w.t. melalui Kalam Nya dengan membaca al-Quran.

Allah SWT berfirman dalam mafhum-Nya: Dan al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (al-An’aam: 155).

Wallahu A'lam


TAJUK: ADAKAH TALAQQI ANDA SUATU HUJJAH?

Nukilan oleh Ibnu Shahr As-saalanury dari Ikmal Zaidi Bin Hashim


قال الله : وإنك لتلقى القرءان من لدن حكيم عليم

Ayat di atas secara jelas memberitahu kepada kita bahawa Al-Quran dan Talaqqi merupakan dua perkara yang tidak dapat dipisahkan, bahkan ia adalah satu-satunya cara Al-Quran disampai,dipindah dan diperturunkan seawal penurunannya kepada Rasulullah S.A.W seterusnya para sahabat dan begitulah sunnahnya generasi ke generasi sehingga hari Kiamat.


Apabila kita menyentuh persoalan hujjah bermakna kita ingin mengetahui sejauh mana sesuatu perkara itu mempunyai "kekuatan" dalam menegak dan mempertahankan sesuatu dasar,pendapat,tafsiran dan perkara-perkara lain supaya ianya diperakukan dan diterimapakai oleh semua pihak. Maka persoalan yang ingin penulis ajukan di sini ialah sejauh mana kekuatan TALAQQI itu di dalam menjadi hujjah pada satu-satu situasi. Situasi yang dimaksudkan di sini ialah apabila kita berhadapan dengan mereka yang sering berkata " saya talaqqi dengan Syeikh macam tu.."atau "saya baca dengan ustaz saya macam ni…" apabila berlaku perselisihan dan perbezaan pendapat di dalam masalah yang berkaitan dengan cara-cara bacaan seumpama panjang-pendek mad, ikhfa', idgham, ikhtilas, isymam, raum, imalah dan lain-lain. Adakah frasa atau ungkapan tersebut semata-mata boleh menjadi hujjah? Seterusnya mampukah ia digunakan oleh semua orang yang bertalaqqi tanpa mengira latar belakangnya terutamanya tahap keilmuannya? Adakah semua orang mempunyai kemampuan yang sama dalam bertalaqqi?


Sesungguhnya talaqqi Al-Quran itu bermaksud mempersembahkan bacaan Al-Quran sepertimana yang didengar atau dilihat daripada guru dengan diperhatikan dan dipimpin bacaan tersebut agar tepat dan betul. Dikenali juga dengan Al-Musyafahah dan Al-A'rd. Ia merupakan proses pembelajaran interaktif yang menjadi sunnah para Qurra' dan Ulamak bukan sahaja di dalam pengajian Al-Quran bahkan semua bidang ilmu Islam. Apabila bertalaqqi, kita akan sedaya upaya "meniru" gaya dan cara bacaan guru kita sama ada sebutan huruf, panjang-pendek dan sebagainya. Namun hakikatnya talaqqi yang sebenar jauh lebih luas daripada hanya sekadar peniruan gaya dan cara ( ( التقليد Al-Imam Ibnu Mujahid[1] seawal kurun keempat telah menjawab persoalan ini.Beliau berkata di dalam kitabnya السبعة : Di kalangan حملة القراءات [2] ada empat golongan :


1) Yang mu'rib[3] dan alim mengenai wajah-wajah I'rab(ilmu Nahu dan Saraf) dan Qiraat.[4]Juga yang mengetahui ilmu Al-Lughat(termasuk Lahajat Al- Arabiyyah) dan makna-makna kalimah.[5]Juga yang mengenal kelemahan-kelemahan dalam Al-Qiraat serta yang mengetahui ilmu Al-Riwayat.[6]Mereka inilah yang dipanggil Al-Imam.

2)Yang mu'rib walaupun tiada ilmu mengenai I'rab,mereka ini adalah Al-A'rabi yang membaca semata-mata berdasarkan amalan kebiasaan di dalam pertuturan seharian mereka.

3)Mereka yang membaca berdasarkan apa yang dipelajari secara praktikal, tiada ilmu mengenai I'rab mahu pun ilmu-ilmu lain yang disebutkan di atas.Mereka semata-mata menghafal, tidak mustahil pada suatu hari mereka akan lupa maka mengakibatkan kesalahan I'rab, mereka hanya bergantung kepada apa yang dihafal dan yang didengar semata-mata tanpa bersandarkan kepada apa-apa ilmu yang berkaitan. Akibatnya mereka akan keliru seterusnya melakukan kesalahan tanpa disedari atau sedar tetapi terus mempertahankan bacaan mereka semata-mata berhujjahkan talaqqi mereka. Mereka ini tidak sepatutnya diikuti dan talaqqi mereka tidak boleh dijadikan hujjah.

4) Mereka yang mempunyai ilmu-ilmu yang disebutkan tadi tetapi tiada ilmu tentang Qiraat dan riwayat. Mereka ini ditakuti akan membaca dengan bacaan-bacaan yang mereka rasakan betul daripada segi Nahu walau pun tidak thabit daripada segi Qiraat (iaitu tidak dibaca oleh mana-mana Imam).[7]

Klasifikasi oleh ibnu Mujahid ini jelas menunjukkan bahawa talaqqi yang menjadi hujjah itu bergantung kepada sejauh mana ilmu dan kefahaman orang yang bertalaqqi itu sendiri terhadap apa yang ditalaqqinya. Kefahaman ini meliputi segala tatacara bacaan secara ilmiyyah tidak semata-mata samai'yyah,nazariyyah(teori) tidak hanya tatbiqiyyah(praktikal) serta berdasarkan dirayah tidak hanya riwayah. Maka sekiranya syarat-syarat ini dipenuhi, maka talaqqi golongan ini dikira sebagai hujjah.

Sementara golongan yang kedua dan ketiga, mereka tidak layak untuk berhujjah dengan talaqqi kerana tiada ilmu, mereka hanya bersandarkan saliqah(kemampuan berbahasa kerana kearaban) sepertimana golongan kedua dan sama'iyyah serta hafalan(golongan ketiga).

Manakala golongan keempat, ketiadaan ilmu Qiraat dan Riwayat menyebabkan mereka juga tidak layak untuk dikuti di dalam bidang bacaan Al-Quran walau pun mereka adalah ulama'.

Ibnu Mujahid agak panjang ketika memberi komen terhadap golongan yang ketiga. Mungkin disebabkan ramainya golongan yang mendakwa kesahihan Qiraat mereka pada kurun keempat hijrah yang menyebabkan beliau meletakkan kriteria-kriteria tersebut di dalam memilih Qiraat sepertimana disebutkan pada golongan yang pertama (yang digelar al-Imam).

Hakikatnya golongan ketiga inilah yang sering menjadikan talaqqi sebagai hujjah tanpa menyedari erti talaqqi yang sebenar. Mereka hanya bersandarkan "peniruan" mereka terhadap gaya bacaan guru tanpa mengetahui segala ilmu yang berkaitan dengan tatacara yang dituruti itu. Sebagai contoh: Seseorang itu telah khatam 30 juzuk Al-Quran tetapi tidak pernah belajar ilmu tajwid atau pun belajar tanpa menguasainya. Bacaan Al-Qurannya yang banyak salahnya itu telah ditegur oleh seorang yang lain yang mungkin belum khatam tetapi bacaannya agak baik kerana pengetahuan tajwid yang ada padanya. Lalu yang ditegur itu tidak mahu mengaku kesalahannya semata-mata kerana dia telah khatam dan mengatakan " saya baca dengan ustaz macam tu ". Situasi seumpama ini mungkin berlaku akibat ketidakfahaman terhadap konsep talaqqi yang sebenar iaitu talaqqi yang bersandarkan ilmu, bukan sahaja ilmu Tajwid dan Qiraat yang menyentuh soal kaedah-kaedah sebutan yang fasih seperti mana yang ditetapkan oleh para ulama', bahkan melampaui ilmu-ilmu yang berkaitan bahasa Al-Quran itu sendiri.

Tidak dapat dinafikan bahawa talaqqi adalah rukun utama di dalam memastikan kesahihan sumber bacaan kita secara bersanad daripada guru yang bersambung dengan Rasulullah S.A.W, namun talaqqi akan terdedah kepada kesalahan jika tidak disertai dengan ilmu yang berkaitan dengannya bagi memastikan kesahihan setiap bacaan yang ditalaqqi. Sebagai contoh : jika ada orang mempersoalkan cara sebutan huruf (ض) yang kita sebut, maka sewajarnya kita menjawab " saya talaqqi begini dengan guru saya, kerana huruf ini sifatnya…….dan makhrajnya……di dalam kitab …….dan sebagainya". Barulah layak bagi kita untuk menjadikan talaqqi kita itu suatu hujjah.

Persoalan ini sengaja diutarakan oleh penulis agar kita bermuhasabah dan menyedari bahawa untuk menjadi seorang yang mahir dengan Al-Quran bukanlah semudah yang disangka. Buktinya bukan semua sahabat Rasulullah menjadi Muqri' tetapi hanya sebilangan sahaja seumpama Ubay bin Kaab, Zaid bin Thabit, Uthman bin Affan, Abu Musa Al Asyari dan lain-lain. Seterusnya bukan mudah untuk menagih janji Allah sepertimana disebut di dalam hadith:الماهر بالقرءان مع السفرة الكرام البررة dan untuk menjadi أهل الله وخاصته . Tidakkah kemulian ini suatu anugerah Allah kepada mereka yang meniti di bibir mereka ayat-ayat suciNya sepertimana ia meniti di bibir kekasihNya S.A.W? Maka dengan itu sama-samalah kita tingkatkan penguasaan ilmu kita dengan bersungguh-sungguh. Sesungguhnya ilmu yang ditimba dengan hati yang penuh ikhlas serta kesedaran yang jitu akan membuahkan taqwa. Firman Allah :

واتقوا الله ويعلمكم الله والله بكل شىء عليم




[1]Al-Imam Abu Bakr Ahmad bin Musa(245H-324H),yang bertanggungjawab memilih 7 Qurra dan Qiraat mereka yang dikenali dengan Al-Qiraat As-Saba'h yang seterusnya menjadi ijma' seluruh umat Islam di atas kemutawatirannya.

[2] Bermaksud mereka yang terlibat di dalam Al-Qiraat dan Al-Iqra' iaitu yang membaca dan menyampaikan bacaan Al-Quran kepada orang lain.

[3] Bermaksud yang mengamalkan I'rab dan tidak melakukan Al-Lahn (kesalahan Nahu) di dalam pertuturan mereka.

[4] Wajah-wajah Qiraat bermaksud perbahasan ilmu taujih al-Qiraat.

[5] Ilmu ini juga dikenali dengan Ilmu Al- Dalalat Al-Lughawiyyah.

[6] Iaitu ilmu mengenai sistem periwayatan,sanad dan sebagainya sepertimana di dalam Ulum Al-Hadith.

[7] Diolah daripada petikan daripada kitab Al-Saba'h.

Wallahu A'lam

Sabtu, 10 Julai 2010

TOKOH ULAMAK TAJWID DI MALAYSIA

Tokoh-Tokoh Ulamak Tajwid yang memberi sumbangan besar terhadap perkembangan Ilmu Tajwid dalam Pengajaran dan Pendidikan di Malaysia.

Nukilan dari balliqul-ilm.blogspot.com oleh Ibnu Shahr As-saalanuri
Dalam penulisan ilmu tajwid terdapat beberapa tokoh yang telah banyak memberi sumbangan dalam pengajaran dan pendidikan. Tokoh-tokoh ini telah bertungkus lumus mengembeling tenaga dan buah fikiran untuk memajukan perkembangan ilmu tajwid yang begitu malap perkembangannya terutama di Malaysia. Mereka telah menulis buku-buku yang berkaitan dengan tajwid sebagai panduan dan pembelajaran kepada umat islam dan pembaca-pembaca al-Quran. Antara tokoh yang banyak memberi sumbangan kepada bidang ini ialah :

1. Tuan Syaikh Musa.
Di Kelantan terdapat seorang anak tempatan yang mahir di bidang tajwid dan ilmu tarranum, beliau ialah Tuan Syaikh Musa, yang dilahirkan di Kampung Apa-Apa , daerah Pasir Mas Kelantan. Beliau dilahirkan sekitar Tahun 1840 dan telah melanjutkan pelajaran di Mekah. Semasa beliau berada di Mekah, beliau telah mempelajari ilmu al-Quran dan akhirnya menjadi guru di Masjidil Haram. Setelah itu beliau juga menguruskan kebajikan orang-orang yang menunaikan haji sehingga beliau digelar “Syaikh”. Beliaulah juga yang dikatakan menjadi pelopor tarannum Hijazi yang pertama di Kelantan.Setelah begitu lama di Mekah, beliau pulang ke Kelantan dan membuka pondok di Kampung Apa-Apa, iaitu di tapak masjid kampung Apa-Apa sekarang. Beliau telah berkahwin dengan Mek Kecik bt Ibrahim dan memperolehi tiga orang anak iaitu Muhammad , Zainab dan Haji Awang. Belaiu telah meninggal dunia pada tahun 1891 dan meninggal ramai anak murid dalam bidang al-Quran, antaranya anaknya sendiri yang mewarisi kemahiran yang ada pada tuan syaikh. Dari segi penulisan pula, beliau bukanlah seorang penulis, ini kerana tidak dinyatakan tajuk-tajuk buku tajwid yang ditulis oleh beliau seperti tokoh-tokoh yang lain.
2. Ustaz Hassan Mahmud Al-Hafiz.
Beliau anak kelahiran Sanglang, Perlis, dilahirkan pada 11 september 1948. Beliau mendapat pendidikan awal di Sekolah Arab di Arau, Perlis, kemudian melanjutkan pelajaran ke Maahad Tahfiz Al-Quran Masjid Negara, Kuala Lumpur (1970 -1973), Pengajaran ilmu Qiraat secara mushafahah dan talaqqi di Maahad Qiraat Shubra, Qahirah, Mesir dalam ilmu Qiraat dan Tajwid, Universiti al-Azhar, Jabatan Usuluddin, dengan pengkhususan dalam ilmu tafsir sehingga mendapat Sarjana Muda (B.A) dalam bidang tersebut.Kini beliau bertugas di Pusat Islam Malaysia, aktif berceramah di jabatan-jabatan Kerajaan, pernah diundang sebagai hakim musabaqah Tilawah al-Quran dan tahfiz sekaligus sebagai Qari jemputan peringkat antarabangsa.
3. Datuk Hassan Azhari
Seorang lagi ilmuan tajwid yang tersohor di Malaysia ialah Datuk Hassan Azhari, 80, atau dikenali juga sebagai Ustaz Hassan. Beliau dilahirkan di Mekah oleh ibunya Fatmah binti Abdul Hakim dan ayahnya Azhari bin Abdul Khaliq seorang tokoh Agama yang terkenal di Selangor. Beliau telah berhijrah bersama keluarga ke Selangor ketika berusia lapan tahun.Ustaz Hassan dibesarkan dalam suasana dan persekitaran keluarga dan masyarakat Arab yang berilmu dan beragama, ini memudahkan lagi beliau menguasai ilmu agama dan juga kemahiran membaca al-Quran. Beliau mempelajari al-Quran secara formal sejak kecil di Mekah iaitu di peringkat rendah di Madrasah Dar al-Ulum, Mekah. Antara guru al-Quran beliau di sini ialah Sheikh Yasin al-Fadani dan di Masjidil Haram, gurunya ialah Sheikh Ismail Tamim (salah seorang imam masjid di Mekah). Selain itu, beliau juga mempelajari al-Quran secara tidak formal melalui guru-guru agama dari Indonesia dan Patani.
Datuk Hassan dapat menghafaz 10 juzuk al-Quran semasa beliau berusia 10 tahun di bawah bimbingan Sheikh Ismail. Beliau mula mempelajari tarannum dan qiraat di Mesir pada tahun 1948. Gurunya dalam tarannum antaranya ialah Sheikh Saiyid Mahmud Lutfi Amir dan Sheikh Mahmud Amin Tantawi. Berkat usaha beliau yang gigih beliau telah menguasai pengajian tajwidnya dengan cemerlang sehingga beliau telah dilantik sebagai hakim tilawah al-Quran di peringkat kebangsaan dan antarabangsa.

Atas keikhlasan menabur bakti itulah, Ustaz Hassan diberi anugerah pada tilawah antarabangsa ke- 50 yang lalu kerana telah 50 kali bertugas sebagai hakim tilawah. Ia boleh disamakan dengan sambutan Jubli Emas sebagai hakim tilawah antarabangsa. Di peringkat kebangsaan pula, Hassan telah menjadi hakim selama 51 tahun iaitu sejak ia mula diperkenalkan. Atas sumbangan dan khidmat dalam bidang pembacaan al-Quran, Hassan dianugerahkan Tokoh Maal Hijrah Kebangsaan 1423H bersamaan tahun 2002 selain beberapa anugerah seperti Tokoh Guru Agama Negeri Selangor tahun 1989 dan Tokoh Maal Hijrah Wilayah Persekutuan pada tahun 1990.

4- Ustaz Surur Shihabuddin An-Nadawi

Seorang pensyarah di Universiti Islam Antarabangsa. Berumur 39 tahun.Pengarang Buku Ilmu Tajwid Jilid I & II. Beliau yang turut dijemput oleh syarikat rakaman EMI untuk merakamkan suara untuk bacaan Yasin dan Tahlil bacaannya sendiri. Rakaman itu kini berada di pasaran dalam bentuk kaset dan cakera padat. Surur juga berpengalaman menghafaz al-Quran di Darul Ulum, Deoband dan mendalami ilmu hadis di Nahdatul Ulama, Lucknow, India.Dari segi khidmat masyarakat pula, Surur pernah menjadi Pengerusi Surau Al-Firdaus, Kota Damansara selama dua tahun yang berakhir tahun lalu (2005). Kini beliau adalah pengerusi Kelas Bimbingan Rehal, Kota Damansara, sebuah pusat pengajian al-Quran dan fardu Ain yang dibuka untuk semua lapisan muslim dewasa dan kanak-kanak.

5. Ustaz Haji Muhammad Hassan bin Ahmad
Beliau dillahirkan pada 4 Januari 1940 di Kampung Bayam, Kota Bharu, Kelantan. Mendapat pendidikan awal di Sekolah Kebangsaan Padang Pak Amat, kemudian menyambung plajaran ke Sekolah Menengah Maahad Muhammadi, Kota Bharu, kemudian ke Kolej Agama Sultan Zainal Abidin, Terengganu. Beliau pernah berkhidmat sebagai Mudir di Sekolah Menegah Agama Khairiah, Padang Pak Amat juga sebagai tenaga pengajar di Sekolah Kebangsaan Padang Pak Amat. Ustaz juga pernah memegang jawatan pegawai di beberapa daerah sekitar negeri kelantan.Beliau mula mendapat pendedahan awal mengenai ilmu al-Quran pada sekitar tahun 90 an daripada beberapa orang guru al-Quran termasuklah Datuk Ishak bin Lembik, Tuan Guru Haji Yaakub, Tuan Haji Ahmad bin Haji Salleh al-Hafiz dan beberapa orang guru dari Mekah, Mesir dan Pakistan. Kini Beliau melanjutkan pengajian di Kolej Antarabangsa Ismail Petra ( KIAS) dalam pengajian ilmu Qiraat. Ustaz Haji Muhammad Hassan juga aktif memberi khidmat mengajar, memberi ceramah dan mengadakan kursus al-Quran kepada pelbagai peringkat lapisan masyarakat.
Berikut adalah buku-buku tajwid yang berada di pasaran dan menjadi rujukan masyarakat:
Ilmu Tajwid Al-Quran- ditulis oleh Ustaz Hassan Mahmud Al-Hafiz diterbitkan oleh Pustaka Al-Mizan, Kuala Lumpur.
Kitab Pelajaran Tajwid, Melengkapi sukatan pelajaran Tajwid tingkatan 1-5 KBSM – ditulis oleh Azahari b Ibrahim, diterbitkan oleh Darul Nu’man, Kuala Lumpur
Kursus Qari dan Qariah – ditulis oleh Abdullah Al-Qari b Haji Salleh (A.Q.H.A.S) – diterbitkan oleh Pustaka Aman Press- Cetakan ke limabelas -2006
Ilmu Tajwid Menurut Riwayat Hafs ‘An ‘Asim Melalui Toriq Asy-Syatibiah – dikarang oleh Surur Shihabuddin An-Nadawi ( Edisi 2007 –Jilid 1 & 2), Penerbit: Universiti Islam Antarabangsa Malaysia, Gombak , Selangor.
Al-Quran Rasm Uthmani Bertajwid dan disertai Makna- ditulis oleh Ustaz Mahadi bin Dahlan dan Ustaz Azharuddin Sahil. Penerbit: Pustaka Haji Abdul Majid.
Belajar tajwid Al-Quranul Karim Cara Mudah dan Tepat ( Edisi Lengkap Rasm Uthmani – ditulis oleh Ustaz Mahadi b Haji Dahlan Al-Hafiz. Penerbit : Al-Hidayah Publishers, Kuala Lumpur.
Panduan tertil Al-Quran ditulis oleh Haji Nik Jaafar bin Nik Ismail. Penerbit : Darul Fikir, Kuala Lumpur.
Memahami dan Mempelajari Tajwid Al-Quran cara Mudah dan Berkesan,( Edisi Baru dan Lengkap Resam Usmani, ditulis oleh Ustaz Zamri b Mat Isa. Penerbit : O.M.I. Nasuha Enterprise , Kota Bharu Kelantan.
Cara Mudah Belajar Tajwid, ditulis oleh Ustaz Haji Muhammad Hassan bin Ahmad.Tajwid Al-Quran Rasn Uthmani, Edisi Januari 2002, Karangan Haji Abdul Kadir Leong, Penerbit : Pustaka Salam Sdn. Bhd.
Ilmu Tajwid – Cara Mudah dan Berkesan, ditulis oleh Ustaz H. As’adHuman . Penerbit : Pustaka Dini, Petaling Jaya, Selangor.
Tajwid Al-Quran ( Cetakan Ke tiga) ; Februari 2005, Ditulis oleh AbuMardhiyah ( Mohamad b Abd Manaf), Penerbit : Al- Jenderaki Enterprise, Gombak, Kuala Lumpur.

Jumaat, 9 Julai 2010

KAIFA TUHFAZ AL-QURAN

(Tip Menghafaz al-Quran- Siri Satu )
Tips ini diambil daripada laman ALKIS Alumni Kolej IslamPersatuan Alumni Kolej Islam, Kelang, Malaysiauntuk dikongsi bersama...dinukil oleh Ibnu Shahr As-Saalanuri
#1 : Mulakan dengan Tekad dan DoaSebelum memulakan, cuba hayati perkatan yang biasa kita dengar iaitu ‘Quraan itu Kalam Allah’. Secara lateral nya bermakna ia adalah milik Allah. Hanya Allah juga yang menjaga (hafz) al-Quraan. Dia jua menentukan di dalam dada siapa hendak disimpan. Dia jua menentukan ke atas lidah siapa hendak dibaca (talaqqy) al-Quraan. Oleh itu sebelum memulakan langkah ada dua perkara yang tiada pilihan melainkan dibuat jua.Pertama, berniat dan bertekad hendak menghafal. Untuk memahami keperluan ini, cuba lihat dalam masyarakat kita. Rata-rata kebanyakan kita membaca surah Yaasin setiap malam Jumaat. Tetapi cuba lihat oleh kerana tiada keinginan untuk menghafal, selepas berpuluh-puluh tahun, hatta sampai ke akhir hayat tidak ramai yang boleh ingat dengan betul. Dan, cuba tanya di kalangan kita siapa yang boleh hafal satu ayat al-Quraan mengenai perintah berlaku adil, berlaku ihsan dan berbuat baik kepada saudara mara yang dibaca oleh khatib setiap akhir khutbah Jumaat. Inilah yang dikatakan power tekad - boleh membezakan pencapaian hidup kita.Kedua, berdoa dan jangan putus-putus berdoa. Hatta sampai ke akhir hayat, teruslah meminta. Tunjukkan yang kita ini amat faqir, terlalu hina dan meminta sedekah daripadaNya. Al-Quraan itu adalah dimiliki Allah dan merupakan sebesar-besar rahmatNya ke atas manusia. Masakan Dia hendak memberi sesuatu hartaNya yang terbaik kepada seseorang yang tak bersungguh-sungguh.
#2 : … only 20 minutes each day, now everyone can do!Antara masalah terbesar dalam memulan menghafaz al-Quraan ialah persoalan bagaimana hendak memulakannya. Sebenarnya terdapat beberapa metos dan fakta dalam penghafazan al-Quraan. Antara metosnya, menghafaz memakan masa yang panjang. Fakta sebenarnya ialah ia hanya memerlukan masa yang singkat tetapi konsisten.Antara masalah terbesar dalam memulan menghafaz al-Quraan ialah persoalan bagaimana hendak memulakannya. Sesetengah pula tergambar bahawa proses menghafaz al-Quraan memerlukan banyak masa sedangkan setiap kita sibuk dengan berbagai urusan, sama ada pelajaran, profesion atau rumah tangga. Sebenarnya terdapat beberapa metos dan fakta dalam penghafazan al-Quraan. Antara metosnya, menghafaz memakan masa yang panjang. Fakta sebenarnya ialah ia hanya memerlukan masa yang singkat tetapi konsisten. Sekiranya kita boleh memperuntukkan 20 minit sehari secara konsisten, tidak kira waktu mana, kita boleh menghafaz. Mungkin sebelum memulakan tugas harian, waktu rehat tengah hari, selepas maghrib, sambil menunggu bas, dalam keretapi atau bila-bila ada kelapangan asalkan tetap. Hanya yang diperlukan ialah sabar membaca bahagian yang sama berulang-ulang hingga Allah mengizinkannya disimpan dalam hati kita.
#3 : Ramadhan Bulan al-QuraanPersoalan kedua yang perlu dijawab ialah “bila nak memulakannya?…”. Al-Quraan diturunkan kepada RasuluLlah (S.A.W) di bulan Ramadhan. Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan al-Quraan. Oleh kerana Rasul (S.A.W) memulakannya di situ, turuti jejaknya. Hanya Allah yang mengetahui betapa eratnya hubungan antara Ramadhan dengan al-Quraan. Seperti yang umum mengetahui bahawa di setiap bulan Ramadhanlah RasululLah (S.A.W) menyemak bacaan dan hafazannya bersama Jibrail (A.S). Cara yang paling mudah dan praktikal untuk mengambil manfaat daripada bulan Ramadhan serta memulakan tahfiz di bulan tersebut ialah pertama dengan mengingati kembali surah-surah yang pernah dihafaz di masa-masa dahulu. Kedua, pada akhir Ramadhan menyediakan rekod inventori surah-surah tersebut.Oleh kerana ia adalah bulan al-Quraan, Ramadhan merupakan bulan terpenting bagi seseorang penghafaz al-Quraan. Sebagai mana amalan Rasul (S.A.W.), di bulan Ramadhanlah seseorang penghafaz memeriksa dan menutup akaun tahunan (annual account check). Mengenai proses penutupan akaun tahunan di bulan Ramadhan, seseorang penghafaz khususnya dan setiap mukmin umumnya, patut mengamalkan dua perkara berikut. Pertama, menjelang Ramadhan yang akan datang, memperbaiki bacaan dan hafazan yang telah disemak dan dikenal pasti telah rosak. Kedua, menjelang Ramadhan akan datang juga, menambah inventori hafazan yang telah dibuat sebelum Ramadhan yang telah lalu. Ingat juga, seseorang mukmin yang baik ialah yang amalannya semakin baik dan bertambah di antara Ramadhan yang telah lalu dengan Ramadhan yang akan datang. Jadikanlah al-Quraan antara amalan yang bertambah di antara setiap Ramadhan.
#4 : Pengajaran Surah al-MuzzammilWalau apa pun pertikaian ulama’ mengenai susunan turunnya surah-surah dalam al-Quraan, terutamanya mengenai kedudukan surah Al-Muzzammil, tidak dapat dinafikan bahawa surah ini adalah anara yang terawal. Perkara yang hendak ditekankan di sini ialah ayat no.5. Ayat ini, yang bermaksud lebih kurang “Kami akan membacakan kepada engkau perkataan yang berat”. Ayat ini mengisyaratkan amalan-amalan yang perlu dibuat oleh Rasul SAW bagi mempersiapkan diri untuk dibacakan oleh Allah al-Quraan di dalam hatinya. Seperkara lagi yang menarik dalam ayat ini ialah perkataan “sa nulqiy” yang membawa makna bahawa sebaik sahaja diamalkan surah ini Allah akan terus membacakan kapada Rasul SAW ayat-ayat yang berat itu.Ringkasnya, surah ini mengajar sesiapa yang ingin menghafaz al-Quraan dengan membuat persiapan diri, sekurang-kurangnya mengamalkan:(a) sembahyang malam, walaupun hanya sejenak;(b) memperbanyakkan istighfar selepas sembahyang malam;(c) membaca al-Quraan semasa atau selepas sembahyang malam; dan(d) bersadaqah.Seperti yang telah dibincangkan sebelum ini bahawa proses menghafaz al-Quraan lebih merupakan kebergantungan kepada rahmat Allah. Ini bermakna kekuatan ingatan berserta amalan membaca secara berulang-ulang samada bersistematik atau tidak, tidaklah memadai. Sebab itulah surah al-Muzzammil ini diturunkan antara yang terawal. Ayuh, mulakannya di Ramadhan ini.
#5 : Kenali Mashaf AndaMungkin soal ini bukanlah sesuatu yang penting. Walau bagaimana pun ramai penghafaz al-Quraan bersetuju bahawa mashaf yang dibaca sewaktu menghafaz mempunyai impak terutamanya ketika mengingat kembali surah-surah dihafaz.Terdapat berbagai jenis mashaf al-Quraan yang dibaca di seluruh dunia. Namun begitu setiap satunya tidak mempunyai identiti pengenalan yang rasmi. Antaranya dikenali sebagai ‘Mashaf Madinah’, iaitu seperti yang biasa dihadiahkan oleh Raja Saudi kepada setiap orang mengerjakan haji. Edisi lain yang seumpamanya seperti yang biasanya ditulis dengan ‘Al-Quraan Al-Karim’ di kulit luarnya atau yang biasanya dicetak di Damshek dan Lubnan. Ada yang juga dikenali sebagai ‘Mashaf Gujerati’. Jenis ini biasanya ditulis dengan ‘Al-Quraan Al-Majid’ dikulit hadapannya dan banyak dicetak di India dan Pakistan. Ada yang dikenali sebagai Mashaf Saudi iaitu yang satu masa dulu diedarkan melalui Rabitah Al-Alami Islami. Tidak ketingalan juga Mashaf Malaysia. Ini hanya contoh sahaja, banyak lagi edisi lain di pasaran. Perlu juga diingat, ada sesetengah mashaf hanya sesuai untuk qiraat tertentu, contohnya satu jenis yang dicetak di Libya khusus untuk qiraat Quloon.Semua mashaf ini adalah betul belaka dan disahkan ketepatannya oleh para hufaz, qaari’ dan muqri’. Apa yang penting diketahui ialah setiap jenis mashaf mempunyai stail cetakan yang berbeza. Antara perbezaan-perbezaan yang penting ialah pada:(a) simbol-simbol bacaan;(b) tempat berhenti (waqaf dan sebagainya);(c) permulaan juzuk-juzuk(d) pembahagian juzuk-juzuk; dan(e) jenis khat.Kesemua ini, walau pun tidak merupakan perkara yang penting, mempunyai kesan yang besar dalam penghafalan. Oleh itu, adalah amat baik kiranya jika satu-satu jenis telah dipilih atau dibiasakan, gunakan mashaf jenis tersebut sahaja sehingga proses penghafalan sempurna. Kekerapan bertukar mashaf boleh menyebabkan kekeliruan ketika mengingat kembali ayat-ayat yang telah dihafaz. Dan, sebaik-baiknya di sepanjang penghafalan gunakan satu mashaf sahaja yang tidak dikongsi dengan sesiapa dan di dalamnya boleh dibuat catatan yang sepatutnya mengenai proses dan sejarah penghafalan yang dilalui.
#6 : Antara Masa dan UsiaIni pula untuk menjelaskan kekeliruan antara mitos dan realiti yang selalu menjadi pertanyaan, terutamanya orang-orang dewasa yang ingin memulakan hafazan pada usia yang lewat. Ada pendapat yang mengatakan sebaik-sebaiknya penghafazan dimulakan pada umur yang muda, sebagaimana yang diamalkan di kalangan masyarakat Arab. Ada pula yang berpendapat menamatkan hafazan dalam tempoh yang singkat, contohnya antara 2 ke 3 tahun, adalah yang terbaik.Pendapat-pendapat ini kuat mempengaruhi umat Islam di mana-mana sahaja. Kesannya, memudarkan harapan sesetengah yang tidak berkesempatan menghadiri sekolah tahfiz pada usia yang muda. Pendapat-pendapat ini juga menggambarkan ada dua faktor yang perlu difikirkan oleh kita semua, iaitu (a) masa dan (b) usia.Untuk melihat sejauh mana tanggapan-tanggapan di atas benar-benar berasas, cuba lihat sejarah penurunan al-Quraan serta proses penghafazan yang dilalui oleh Rasul S.A.W. dan para Sahabat. R.A. Mari kita renungkan fakta-fakta di bawah ini, yang kebanyakan kita telah sedia mengetahuinya, iaitu:(a) walaupun boleh menurunkan al-Quraan sekaligus kepada RasulAllah S.A.W (an-Nisaa’:136) dan menuliskan dalam hati dan ingatannya berkekelan dan tidak akan lupa sampai bila-bila (al-A’laa:6), Allah menurunkannya sedikit demi sedikit kerana sebab-sebab tertentu, termasuklah untuk memudahkan RasulAllah (sebagai sifatnya manusia biasa [al-Kahf:110]) mengingat kembali ayat-ayat yang telah diturunkan (al-Furqaan:32). Proses ini memakan masa hampir 23 tahun;(b) di kalangan para sahabat RasulAllah yang ternama hanya beberapa sahaja yang berpeluang memulakan hafazan pada umur muda, antara mereka ialah Sayyidina Ali K.W., Hasan, Hussain serta Ibnu ‘Abbas dan tiga Abdullah yang lain R.A. Yang lainnya, termasuk tiga Khulafa’ al-Rasyidin yang pertama memulakannya pada usia ‘terlalu dewasa’ dan dengan mengambil tempoh yang panjang;(c) di kalangan para sahabat besar dan ternama, juga terdapat yang bermasalah ketika menghafaz. Mungkin ada yang pernah mendengar cerita Sayyidina Umar yang mengambil masa 10 tahun menghafaz surah al-Baqarah. Sebagai tanda kesyukuran beliau telah menyembelih unta;(d) di dalam riwayat al-Tirmidzi dan al-Haakem ada peristiwa bahawa Sayyidina Ali K.W. dan Ibnu ‘Abbas R.A. yang pergi bersama-sama berjumpa RasulAllah S.A.W. untuk mengadu yang sejumlah besar hafazan mereka ‘hilang’. Kisah Imam al-Syafiee yang lupa sebahagian hafazannya, walaupun telah tamat pada usia tujuh tahun, juga diketahui ramai.Fakta-fakta daripada seerah seperti di atas mengisyaratkan bahawa tiada had usia untuk memulakan proses tahfiz. Sebagaimana juga yang dilalui oleh RasulAllah S.A.W dan para sahabat R.A., tiada siginifikannya untuk menamatkan proses tahfiz dalam tempoh yang pendek. Bahkan, kisah Ibnu ‘Abbas R.A., Sayyidina Ali K.W. dan Imam al-Syafiee di atas mengisyaratkan bahawa tiada advantage yang ketara antara yang memulakannya di usia muda. Semua kita tahu bahawa Sayyidina Ali K.W. dan Ibnu ‘Abbas R.A. yang merupakan antara mereka yang paling ‘pakar’ dalam hal-ehwal al-Quraan. Semua orang juga tahu Imam al-Syafiee adalah seorang yang genius – dikatakan bahawa beliau boleh berbual dan berfikir serentak dalam topik-topik yang berlainan. Mereka juga menghadapi masalah. Kenapa demikian?. Akan dibincang di bawah tajuk ‘Lupa’ kelak.Tidak boleh dinafikan sama sekali memulakan hafazan pada umur yang muda dan menamatkannya dalam tempoh yang singkat amat baik sekali. Sekiranya kita percaya peristiwa-peristiwa dalam seerah Rasul S.A.W. ‘bukanlah sesuatu yang kebetulan’ kita akan mengambilnya sebagai manhaj (cara) untuk menghafaz al-Quraan. Daripada itu juga, bolehlah disimpulkan bahawa ‘tempoh’ adalah lebih penting daripada ‘usia’. Bukan sebaliknya, sebagaimana yang menjadi mitos yang memberikan kesan negatif kepada kebanyakan umat Islam.Teringat saya pada suatu peristiwa dalam bulan Ramadhan yang lalu seorang kiyai dari Sumatera bertanya saya tentang cara menghafaz untuk diajarkan kepada anaknya, seorang guru al-Quraan. Dia berkata dia sudah berusia lebih 60 tahun – dah tak ada harapan lagi. Selepas dijelaskan kisah dalam seerah seperti di atas, saya bertanya kepadanya “Pak Kiyai yakin tak yang Pak Kiyai boleh hidup 20 tahun lagi?”. Jawab beliau, “Insya Allah”. Esoknya Pak Kiyai tersebut datang semula dan berkata, “saya dan anak saya dah mulakan hafazan hari ini …
#7 : Mind the Minutes. Dalam banyak kes, masalah mengingat ayat-ayat al-Quraan berpunca daripada masalah-masalah kecil.Apabila kita memegang mashaf atau membaca al-Quraan, mungkin kerana setiap hari dan terbiasa melihat mashaf, kadang-kadang terlupa juga yang kita sedang berhadapan dengan Kalam Allah. Lantaran, terlupa kita menghormati Kalam yang Agong itu yang tiada lagi yang lebih mulia daripadanya di atas muka bumi ini. Terlupa juga kita menghayati adab-adab ketika ‘mengungkap’ Kalam Allah yang mulia itu.Yang dimaksudkan adab-adab di sini bukannya mesti mengucup mashaf, duduk menghadap kiblat, kena pakai kepiah atau sebagainya yang asas amalan-amalan tersebut boleh dipersoalkan kesahihannya. Bukan juga bermaksud untuk membincangkan mesti mengambil wudhu’ atau tidak sebelum menyentuh mashaf – isu ini sudah sahih kedudukannya. Apa yang ditekankan di sini ialah adab membaca dengan cara tarteel. Kebanyakan ulama’ bersetuju tarteel bermaksud bacaan dengan betul tajweed, makhraj, waqf, madd, qiraat yang standard, lagu yang standard (tanya mereka yang mahir dalam bidang tarannum) dan kelajuannya. Dengan lebih tepatnya, bacaan tarteel bermaksud membaca al-Quraan sebagaimana ia ditalaqqykan oleh Jibreel A.S. kepada Rasul Allah S.A.W.Isu tarteel ini merupakan lanjutan kepada perbincangan dalam tips #4 dahulu. Dengan lain perkataan, keperluan membaca secara tarteel merupakan perintah terawal diterima oleh Rasul Allah S.A.W. Oleh itu juga merupakan persediaan awal kepada penghafaz al-Quraan. Maksudnya, apapun petua yang diajar orang tentang mengenai kaedah mudah mengingat atau tidak mudah lupa, petua nombor 1 yang ajarkan oleh Allah kepada Rasul S.A.W. ialah bacalah al-Quraan dengan betul begaimana ia ditalaqqykan kepada Rasul S.A.W (al-Qiaamah, 18).Dalam soal ini satu perkara yang amat penting diingat ialah isu keutamaan (priority). Membaca atau menghafaz?. Mungkin kita mencuba bersungguh-sungguh untuk menghafaz al-Quraan atau mana-mana surah yang kita pilih sehingga kita terlupa menghormati peraturanmembaca secara tarteel. Walaupun begitu perlu sentiasa diingat bahawa yang lebih penting lagi amalan membaca al-Quraan itu sendiri. Membaca al-Quraan adalah satu ibadah khusus. Semua kita tahu bahawa pahala membaca al-Quraan adalah dikira daripada huruf-hurufnya yang dibaca dengan betul. Sekurang-kurangnya, kuasailah kaedah tajweed asas iaitu (a) makhraj yang betul dan (b) hukum yang lima.Perlu juga diingatkan kembali persoalan yang dibangkitkan dalam tips #1 iaitu hanya Allah yang menuliskan al-Quraan dalam hati kita. Jika kita berjaya menghafaz, itu bukan kerana keupayaan otak kita. Sebenarnya otak manusia, secara fizikalnya, sama seperti gunung-ganang (al-Hasyr,21), lemah dan tidak mampu menanggung al-Quraan. Al-Quraan itu Kalam Allah yang thaqeela atau amat berat (al-Muzzammil, 4).Oleh itu, mulakan penghafazan dengan pembacaan yang betul begaimana ia ditalaqqykan kepada Rasul S.A.W. Jangan speeding, jangan tergopoh gapah, Allah tidak suka (al-Qiaamah, 16). Tak mengapa lambat sedikit (lihat tips sebelum ini). Ingat, para Sahabat dan para huffaz tidak menghafaz di atas lidah, hafazan mereka ‘meresap’ ke dalam darah daging, ingatan dan perasaan. Dengan mematuhi perintah membaca dengan betul, satu hari nanti insya Allah, dengan kasihan dan belasNya akan dikurniakan kedua-duanya. Pahala membacanya dan dituliskan ke dalam hati untuk selama-lamanya – iaitu untuk ditalaqqy pula kepadaNya di akhirat kelak.
#8 : Disiplin dan ‘Peace-in-mind’Kita biasa mendengar berita ada penghafaz al-Quraan yang cemerlang dalam berbagai-bagai bidang. Sekadar contoh, pada tahun lalu seorang pelajar Libya yang menghafaz al-Quraan dalam tiga qiraat berjaya mendapat ijazah kelas pertama dalam off-shore engineering di UK. Sebelum itu pada tahun 2004, seorang pelajar hafiz dari aliran sastera yang diterima belajar di salah sebuah kolej swasta terkemuka di Petaling Jaya mendapat semua A dalam A-level jurusan sains. Beliau sekarang sedang meneruskan pelajaran dalam bidang perubatan. Banyak lagi contoh lain yang tidak diuar-uarkan.Tentunya kita tertanya-tanya, bagaimanakah mereka melakukannya?Antara jawapannya ialah disiplin dan ‘peace-in-mind’. Perbincangan dalam tips #2 disebutkan bahawa penghafazan memadai jika diamalkan dalam tempoh sependek kira-kira 20 minit sehari. Namun begitu, bagaimana kita boleh memperuntukkan 20 minit sehari jika fikiran kita diserabutkan dengan berbagai-bagai urusan harian yang tak berkesudahan, mengejar date-line atau kekurangan masa untuk mengulang kaji pelajaran?. Namun, bagaimana pula orang yang menghafaz tiga qiraat boleh memperuntukkan masa untuk belajar malah mendapat ijazah kelas pertama dalam bidang kejuruteraan?.Bagi membolehkan kita duduk 20 minit dalam ‘peace-in-mind’, fully concentrated dan undisturbed, kita perlu memastikan segala urusan harian dalam keadaan ‘under control’. Selain daripada keperluan memperuntukkan masa untuk menghafaz, bagi membolehkan hafazan kita berkekalan, ada beberapa rutin yang yang perlu diamalkan (akan dibincangkan kemudian). Amalan-amalan tersebut, walaupun hanya sedikit tetapi perlu diamalkan secara konsisten. Untuk memperoleh ‘peace-in-mind’, eloklah kita menguruskan rutin harian dan kerjaya kita secara teratur mengikut jadual yang telah ditetapkan, dilakukan sesempurnanya dan pada kualiti yang cemerlang. Untuk itu juga, cuba fahami dengan secara kritikal dan mendalam mesej yang disampaikan oleh ayat-ayat 34-36 surah al-Israa’ terutamanya dari dimensi pengurusan diri, perniagaan dan profesional.Pendek kata, orang yang berjaya menghafaz al-Quraan adalah yang amat tinggi disiplinnya dalam semua aspek kehidupan. Kata setengah orang, “charity begins at home…” ---BERSAMBUNG.
( Tip Menghafaz al-Quran- Siri Dua )

#9 : Fahami Lay Out al-Quraan 1 – Kenali Surah Generic dan Surah UnikDi dalam surah Aali-‘Imraan Allah menyebutkan ayat-ayat al-Quraan itu terbahagi kepada dua iaitu ayat-ayat muhkamaat (jelas) dan ayat-ayat mutasyabihaat (samar). Terdapat beberapa pandangan mengenai maksud kedua-dua perkataan tersebut. Di tempat lain pula dinyatakan bahawa al-Quraan itu merupakan ayat-ayat yang berulang-ulang. Kesemua sifat tersebut perlu dimanfaatkan dalam proses penghafazan. Jika dimanfaatkan, akan mempercepatkan proses penghafazan. Jika tidak, akan berlaku kekeliruan ketika membaca surah-surah tertentu.Ada orang berkata “saya senang saja menghafal surah itu dan ini”. Ada pula yang berkata “dulu saya dah ingat surah ini. Tapi, bila dah hafal surah itu, surah ini pulak lupa. Bagaimana mengatasinya”. Yang lainnya pula bertanya “Surah mana yang terbaik untuk memulakan hafazan?”. Ada sifulan berkata “saya tidak pulak menghadapi masalah yang besar untuk mengahafaz dalam tempoh dua tahun… ”. Fenomena dan persoalan-persoalan di atas tidak mudah dijawab. Namun begitu, jika kita memahami bagaimana lay-out al-Quraan mungkin sebahagian persoalan-persoalan tersebut boleh dijelaskan.Lay-out al-Quraan perlu dilihat daripada beberapa dimensi. Satu daripadanya, ia itu mengenai ikatan antara satu surah dengan surah yang lain, dibincangkan di sini. Yang lain-lainnya akan dikupas dalam siri-siri yang akan datang. Tanpa memahami ikatan antara surah-surah atau hubungan antara ayat dengan ayat, seseorang akan menghadapi masalah terutamanya dalam tiga keadaan:(a) ketika memilih surah mana untuk dihafaz;(b) mengingat semula hafazan yang telah dibuat; dan(c) berlaku kekeliruan ketika membaca semula hafazan yang dibuat.Di dalam surah Aali-‘Imraan Allah menyebutkan ayat-ayat al-Quraan itu terbahagi kepada dua iaitu ayat-ayat muhkamaat (jelas) dan ayat-ayat mutasyabihaat (samar). Terdapat beberapa pandangan mengenai maksud kedua-dua perkataan tersebut. Di tempat lain pula dinyatakan bahawa al-Quraan itu merupakan ayat-ayat yang berulang-ulang. Kesemua sifat tersebut perlu dimanfaatkan dalam proses penghafazan. Jika dimanfaatkan, akan mempercepatkan proses penghafazan. Jika tidak, akan berlaku kekeliruan ketika membaca surah-surah tertentu.Untuk memudahkan pengaplikasian dan meringkaskan perbincangan, ayat-ayat dan surah-surah boleh dibahagikan kepada:(a) ayat-ayat dan surah-surah generic. Dalam kategori ini ayat-ayatnya mempunyai vocabulari, kandungan dan susunan yang hampir antara satu dengan yang lain;(b) ayat-ayat dan surah-surah unik. Dalam kategori ini ayat-ayat atau surah-surahnya tidak ada persamaan di tempat-tempat lain.Mengenai surah-surah yang generic ramai penghafaz melalui empat peringkat pengahafazan iaitu:(a) bermula dengan hanya sedikit kesukaran kerana vocabulari dan kandungannya biasa didengar;(b) rasa ‘macam senang’ bila menemui surah lain yang seumpamanya;(c) kemudin, mula menghadapi kekeliruan dan bercampur-aduk (mix-up) ketika membaca beberapa surah tertentu; dan(d) terpaksa menghafaz semula setiap surah berkenaan bagi menyelesaikan kekeliruan.Namun surah-surah generic, jika kita dapat mengenalinya dan berhati-hati sejak dari awal lagi, penghafazan mempunyai kelebihan. Iaitu, dalam tempoh yang pendek kita dapat menghafaz banyak surah. Langkah pertama untuk mengurangkan kekeliruan ialah menjadikan yang terawal dari kalangannya sebagai ‘base’ dan perlu dihafaz sekuat-kuatnya dengan tanpa ragu pada mana-mana bahagiannya. Jika berlaku kekeliruan di masa akan datang, pastikan hafazan surah yang menjadi ‘base’ tersebut sentiasa tidak terganggu. Dalam tempoh yang tidak panjang, surah yang menjadi ‘base’ akan dapat membantu meyelesaikan kekeliruan pada surah-surah berikutnya yang di dalam keluarga yang sama.Mengenai surah-surah unik, sejak dari awal hingga akhir prosesnya hanya satu, susah sepanjang jalan sebab sesetengah vocabulari atau kandungannya tidak biasa digunakan atau tidak pernah didengar, termasuk oleh orang Arab sendiri. Contonya surah as-Syura, Yoosuf, az-Zukhruf dan al-Kahf. Mungkin juga ramai yang menyedari bahawa kebanyakan surah-surah pendek di dalam juzuk 29 dan 30 adalah tiada pengulangan di tempat-tempat lain. Sesetengahnya dari sudut kandungan, yang lainya dari segi vocabularinya. Sebahagian daripada surah Yaasin adalah juga dari kumpulan ini.Oleh itu, sebelum memilih atau mula menghafaz mana-mana surah, klasifikasi ini perlu diambil perhatian. Jika tidak selama-lamanya akan berlaku kecelaruan. Di bawah ini dipaparkan sebahagian senarai sifat beberapa surah sebagai panduan.1. Contoh surah yang mengandungi amat banyak ayat-ayat generic:(a) surah an-Nisaa’ (sebab itu ramai yang ‘terkandas’ di sini)(b) surah ar-Rahmaan;(c) surah al-Mursalaat;2. Contoh surah-surah generic yang boleh, samada membantu atau mengelirukan antara satu dengan yang lain, adalah seperti di bawah (senarai ini hanya mengandungi surah-surah yang banyak mengenai kisah-kisah nabi. Senarai daripada ketegori lain - seperti surah-surah hukum, mengenai Bani Israel, Adam & Iblis, Isa & Maryam dan tentang hari Kiamat akan disediakan kemudian):Kumpulan 1 :(a) al-A’raaf;(b) Yunus;(c) al-Hijr;(d) al-Ankabuut;(e) as-Syu’araa’Surah-surah ini mengandungi kisah-kisah beberapa orang terutamanya Nuh, Hud, Saleh, Lut Syuaib dan Musa. Pengkesahan dimulakan dalam surah al-A’raaf. Kemudian, kisahnya diulangi dalam surah-surah lain sekeluarganya dalam susunan dan vocabulari yang hampir menyerupai antara satu sama yang lain.Kumpulan 2 :(a) al-Baqarah;(b) al-A’raaf;(c) Ibraaheem;(d) Taaha;(e) al-Anbiyaa’(f) as-Syu’araa’(g) an-Naml;(h) al-Qasas;(i) GhaafirSurah-surah ini mengandungi kisah mengenai Nabi Musa, Fir’aun dan Bani Israel secara detail. Walaupun temanya sama, dalam banyak keadaan, vocabularinya bertukar-tukar. Risiko kekeliruan amat tinggi pada surah-surah ini - bukan sahaja kepada pelajar-pelajar, juga biasa berlaku ke atas imam-imam berpengalaman.Kumpulan 3:(a) al-Anbiyaa’(b) as-Saffaat;(c) Saad;(d) MaryamSurah-surah ini mengandugi kisah berbagai nabi yang tidak disentuh secara detail di dalam al-Quraan, contohnya Ilyaas, Ilyasaa’, Yahya dan Dzulkifli. Sekiranya surah-surah dari Kumpulan 1 di atas boleh dikuasai dengan baik, kekeliruan dalam Kumpulan 3 ini boleh dikurangkan.

#10 : Hormati Tradisi Para Huffaz 1Allah (SWT) yang memiliki sifat maha berkuasa, boleh terus bercakap dengan RasulAllah (S.A.W) jika dikehendaki-Nya, sebagaimana disampaikan perintah-perintah-Nya kepada Nabi Musa (AS). Dia juga boleh memberikan wahyu dalam mimpi seperti yang berlaku pada Nabi Ibraahim (AS). Allah juga tiada masalah untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad dengan diangkat baginda ke langit seperti yang berlaku pada baginda (SAW) pada malam ‘Mi’raaj’. Malahan Allah (SWT) boleh menurunkan al-Quraan selkali gus kepada Nabi (SAW), lalu dituliskan al-Quraan itu dalam hati baginda (SAW) sehingga kekal selama-lamanya. Jika Dia berkata ‘jadi!’, maka, jadilah sesuatu itu. Maha berkuasa Allah. Oleh itu apa perlunya perantara seperti Jibril?Apa Peranan Jibril? Jawapannya, ‘banyak’.Allah (SWT) yang memiliki sifat maha berkuasa, boleh terus bercakap dengan RasulAllah (S.A.W) jika dikehendaki-Nya, sebagaimana disampaikan perintah-perintah-Nya kepada Nabi Musa (AS). Dia juga boleh memberikan wahyu dalam mimpi seperti yang berlaku pada Nabi Ibraahim (AS). Allah juga tiada masalah untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad dengan diangkat baginda ke langit seperti yang berlaku pada baginda (SAW) pada malam ‘Mi’raaj’. Malahan Allah (SWT) boleh menurunkan al-Quraan selkali gus kepada Nabi (SAW), lalu dituliskan al-Quraan itu dalam hati baginda (SAW) sehingga kekal selama-lamanya. Jika Dia berkata ‘jadi!’, maka, jadilah sesuatu itu. Maha berkuasa Allah. Oleh itu apa perlunya perantara seperti Jibril?Dalam seerah dan juga berdasarkan dalil ayat-ayat al-Quraan, umum mengetahui bahawa al-Quraan diturunkan Allah melalui perantaraan Jibril. Tiada bukti yang sahih yang dapat menunjukkan bahawa ada ayat al-Quraan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad (SAW) tanpa ditalaqqykan oleh malaikat. Melalui seerah juga, jelas terbukti bahawa peranan Jibril bukan sekadar menyampaikan wahyu tetapi juga menyemak bacaan RasulAllah (SAW). Amalan menyemak bacaan RasulAllah (SAW) berkekalan sehingga tahun kewafatan baginda (SAW). Mafhumnya, dalam konteks penghafazan al-Quraan, Jibril memainkan sekurang-kurangnya:(a) penyampai;(b) mentor; dan(c) rakan.Sebagai mengambil iktibar daripada hubungan RasulAllah (SAW) tersebut, para ulama’ sejak zaman para Sahabat lagi telah membudayakan suatu tradisi penghafazan yang perlu dihormati. Antaranya:(a) tidak menghafaz ayat-ayat atau surah-surah tanpa disahkan betul oleh seseorang yang lebih baik bacaannya;(b) setiap hafazan mesti disahkan betul oleh orang yang berkebolehan;(c) hafazan berjalan bawah penyeliaan orang lain;(d) tidak menganggap bahagian-bahagian yang telah dihafaz akan kekal selama-lamanya, malahan sentiasa membuat semakan hafazan dari semasa ke semasa;(e) walaupun telah ‘khatam hafazan’, proses penghafazan masih berterusan dan proses penyemakan bacaan juga berjalan sepanjang hayat.

#11 : Menguruskan LupaBagaimana mengatasi masalah lupa?. Inilah FAQ (frequently asked question). Dalam konteks penghafazan al-Quraan mempunyai berbagai-bagai dimensi dan berpunca daripada pelbagai sebab. Dengan perkataan lain, jenis lain kategori lupa perlu diatasi dengan kaedah lain. Pada sesi ini, kita akan membincangkan satu sahaja punca lupa dan cara penyelesaiannya. Isu ‘kelupaan’ Saidina ‘Ali dan Ibn ‘Abbas seperti yang telah dibincangkan sebelum ini adalah berkaitan dengan isu kali ini iaitu ‘lupa adalah satu proses’. Bahkan, lupa adalah sifat semula jadi manusia. Seperti yang dinyatakan dalam ayat 115 surah Taha, bahawa ketika Adam A.S. dijadikan, Allah membuat satu perjanjian dengannya, lantas dia ‘lupa’… Kalau seorang Nabi boleh lupa, apatah lagi kita. Selain daripada itu, walau apapun kaeadah terbaik yang kita ambil untuk menghafaz, seharusnya kita memahami bahawa, sebagai sahabat besar, kaedah yang digunakan oleh Saidina Ali dan Ibn Abbas adalah lebih baik daripada yang digunakan oleh kebanyakan orang. Andaian ini adalah berasaskan kepada beberapa hadis sahih yang mengisyaratkan tingginya ilmu al-Quraan yang ada pada kedua-dua mereka itu.KONSEPDalam usaha mengejar matlamat menghafaz al-Quraan, kita juga harus sentiasa ingat pesanan Allah dalam ayat 37 surah al-Anbiyaa’ bahawa manusia itu dijadikan oleh-Nya bersifat gopoh. Salah satu daripada sifat gopoh ialah mahu melihat hasil usaha dalam tempoh yang singkat. Sekiranya kita boleh menerima hakikat bahawa ‘lupa’ dan ‘gopoh’ itu merupakan sifat semula jadi kita, isu kelupaan hafazan insya Allah boleh ditangani. Begitu juga hakikat hidup ini, tiada urusan besar atau kecil yang boleh dilaksanakan dengan sempurna tanpa perancangan yang teliti dan pengurusan yang berkesan. Proses penghahazan al-Quraan tidaklah terkecuali. Untuk itu, mungkin satu omokan (joke) yang boleh dimanfaatkan ialah ‘if you cannot beat them, join them’. Jadi, satu daripada kaedah untuk mengatasi lupa ialah dengan menerima hakikat kejadian semula jadi kita dan menguruskan proses lupa semula jadi yang sedia ada (by default) dalam diri kita itu dengan teratur.Persoalannya, kenapa perlu diuruskan lupa? Pertama, untuk menguji kekentalan dan ketepatan ingatan kita. Kedua, memberikan ‘momentum’ agar hafazan kita berjalan berdasarkan keupayaan fizikal ‘menanggung’ ayat-ayat yang dihafaz. Hal ini bermakna sekiranya kita telah menghafaz melebihi keupayaan otak kita untuk menanggungnya, kita perlu membenarkan supaya proses pelupaan ‘semula jadi’ berlaku. Dengan itu juga kita dapat mengelakkan tekanan ke atas mental. Ketiga, untuk meningkatkan ketepatan hafazan dan mengurangkan risiko kekeliruan (mix up) terutamanya apabila menghafaz surah-surah ‘generic’. Sekiranya kita membenarkan proses kelupaan secara semula jadi berlaku, hafazan-hafazan yang silap dan keliru akan terpadam sedikit demi sedikit.PRINSIPUntuk ‘menguruskan lupa’ beberapa prinsip yang perlu difahami, ialah:(a) otak manusia bukan seperti mesin fotostat. Oleh yang demikian, kadar kekentalan pengingatan (retention) seseorang manusia biasa perlu dibina. Prosesnya termasuklah ujian yang berulang-ulang;(b) mutu kekentalan ingatan boleh diukur;(c) kekentalan ingatan boleh digredkan secara kasar kepada (i) segera (flash), (ii) sementara, dan (iii) jangka panjang;(d) proses pengentalan ingatan memerlukan perancangan yang teratur;(e) otak manusia memerlukan sokongan luar untuk mengukuhkan ingatan. Antaranya, pengalaman-pengalaman manis dan peristiwa-peristiwa yang tidak boleh dilupakan; dan(f) ‘masa’ adalah penghakis utama ingatan manusia.STANDARDBerkaitan prinsip-prinsip di atas, setelah melalui ‘ujian cabaran masa’, setiap surah yang dihafaz perlu melalui sekurang-kurangnya tiga tahap ingatan:(a) tahap 1 : registration atau hafazan ‘flash’,(b) tahap 2 : hafazan sementara; dan(c) tahap 3 : hafazan jangka panjang.HAFAZAN TAHAP REGISTRATIONUkuran pencapaian pada tahap ini ialah kejayaan menghafaz dengan betul kali pertama bahagian/rubu’ yang dipilih. Kemudian, selepas satu tempoh yang pendek, biasanya dalam sehari dua sahaja, banyak bahagiannya yang hilang. Sebagai peringatan, bahagian-bahagian yang dihafaz pada peringkat ini tidak digalakkan dibaca ketika mengimami solat.HAFAZAN TAHAP HAFAZAN SEMENTARAUkuran pencapaian pada tahap ini ialah bahagian yang dihafaz boleh dibaca semula selepas ‘berkerja keras’ untuk mengingatinya semula. Sebagai peringatan, tahap ingatan sementara tidak sama antara individu dengan individu yang lain. Ada yang hanya mampu bertahan hanya sehari dan ada yang mampu bertahan sehingga dua minggu.HAFAZAN TAHAP HAFAZAN JANGKA PANJANGUkuran pencapaian pada tahap ini ialah tiada masalah besar untuk membaca semula bahagian yang telah dihafaz. Peringatan; pertama, proses menyemak atau menghafaz semula perlu dilakukan dengan segera kerana walaupun ada antara kita mempunyai kaedah hafazan yang terbaik, kita perlu menerima hakikat bahawa otak manusia mempunyai ‘had masa’ untuk menyimpan (retention) rekod-rekod. Seperti yang dinyatakan di atas, kadar kekuatan retention tidak sama antara individu dengan individu yang lain. Kedua, kita harus menerima hakikat bahawa tidak semua manusia mempunyai hafazan yang kekal. Namun begitu, sekiranya kita telah mampu menyediakan jadual semakan semula yang membolehkan kita khatam dalam tempoh kurang daripada 40 hari dan ada bahagian yang ‘tidak terpadam’, bahagian tersebut boleh dianggap sebagai telah bertaraf ingatan jangka panjang.PELAKSANAANUntuk merancang menghafaz sambil menguruskan lupa, langkah-langkah berikut perlu diambil:(a) Membuat Perancangan Jangk PanjangLangkah pertama ialah menetapkan sasaran tempoh hafazan. Untuk memudahkan proses, tetapkan tempoh antara 5 – 10 tahun;(b) Membuat Perancangan Jangka PendekMula-mula bahagikan mashaf kepada saiz yang boleh diurus (manageable size). Contohnya dibahagikan seluruh mashaf kepada enam segmen, yang setiap segmen mengandungi 5 juzuk. Kemudian, sediakan sasaran tempoh penghafazan segmen yang dipilih.Oleh itu jika sasaran jangka panjang dianggarkan 10 tahun, bermakna:= satu bulan perlu menghafaz 2 rubu’ (1 rubu’ bersamaan 1/8 juzuk - lihat nota di bawah di bahagian akhir artikel ini),= satu juzuk dihafaz dalam tempoh 4 bulan,= satu tahun dihafaz 3 juzuk.Sebagai peringatan, kiraan ini hanyalah anggaran kasar sahaja. Pengaggaran perlu dibuat supaya kita mempunyai idea mengenai perancangan penghafazan serta boleh menjangka beban tugas penghafazan. Tanpa sasaran dan objektif yang boleh diukur, pelan perancangan yang berkesan tidak boleh disediakan. Sama ada sasaran tersebut tercapai atau tidak, itu persoalan lain.(c) Jalankan Proses Penghafazan dan Pengurusan Lupa Secara SistematikMula-mula sediakan senarai bahagian-bahagian yang hendak dihafaz. Setiap bahagian hafazan hendaklah dibahagikan kepada tiga peringkat hafazan (Sila lihat juga nota di bahagian akhir artikel ini). Kemudian, rekodkan dengan teratur proses penghafazan dengan mengambil kira standard kualiti hafazan yang disarankan di atas.Sallehuddin Ishak, GlasgowNOTA - Contoh penggunaan Buku Log Hafazan dan Pengurusan LupaProses penghafazan perlu mempunyai rekod yang teratur. Sistem ini bertujuan untuk mengukur pencapaian hakiki tahap hafazan kita. Buku log untuk merekodkan tahap penghafazan boleh diperoleh dari bahagian muaturun laman ALKIS ini. Buku tersebut disusun mengikut pembahagian al-Quraan mengikut mashaf Madinah (rujuk Tips #5). Mengikut pembahagian ini, setiap juzuk dibahagikan kepada 8 rubu’ (quarter/bahagian). Oleh itu, keseluruhan mashaf dibahagikan kepada 240 rubu’. Hal ini bermaksud jika setiap rubu’ tidak dibahagikan kepada saiz yang lebih kecil, untuk menghafaz keseluruhan al-Quraan, kita perlu menghafaz 240 quarter/bahagian. Buku tersebut telahpun membahagikan seluruh mashaf menjadi 6 segmen.Sekiranya buku log tersebut hendak digunakan, eloklah urutan penghafazan ini diikuti.(1) Hafaz setiap rubu’ dengan sempurna sebelum beralih ke rubu’ yang baru. Sebaik-baiknya buat semakan dengan orang lain sebelum beralih ke rubu’ yang baru (katakan kita memulakan hafazan pada rubu’ no.201 – surah al-Ahqaf);(2) Sebaik-baik sahaja kita berpuas hati dengan hafazan ‘kali partama’ dan mencapai standard hafazan ‘flash’, buat catatan tarikh dan peristiwa atau pengalaman penting yang kita rasa berkaitan dengan hidup kita pada ruang nota. Jenis atau bentuknya peristiwa tersebut, terpulanglah kepada individu. Ingatan atau kenangan peristiwa/pengalaman penting tersebut akan membantu kita dalam mengingati kembali dalam satu tempoh panjang yang akan datang (Sebagai contoh, sebahagian catatan penulis ada ditujukkan di sini);(3) Selepas itu, abaikan rubu’ yang baru dihafaz itu (rubu’ 201) sehingga sempurna hafazan bahagian yang di hadapan (rubu’ 202). Di sini, kita telah mula menguruskan lupa dan dalam masa yang sama mula menguji kekuatan hafazan kita untuk berhadapan dengan ‘masa’.(4) Selepas bahagian baru (rubu’ 202) selesai, cuba ingat kembali hafazan terdahulu (rubu’ 201). Jika telah lupa, ulangi proses hafazan. Pada peringkat ini, jangan menghafaz ‘bersungguh-sungguh’ – cuma baca sekali atau dua kali sahaja sehari bahagian tersebut. Dalam setiap sesi ‘pembaikian’, elakkan daripada memperbaiki banyak ayat, tetapi tumpukan kepada satu atau dua ayat sahaja. Kadang-kadang, dalam setiap rubu’ hanya sebahagian kecil sahaja ayat yang ‘bermasalah’ untuk kita menghafaznya, tetapi kesannya menyeluruh. Kemudian semak kembali keesokan harinya. Teruskan sehingga tiada lagi masalah untuk membaca semula. Selepas itu, cuba buat kiraan kasar dan rekodkan tempoh yang diambil oleh peringkat ini. Kemudian bandingkan dengan tempoh hafazan kali pertama. Perlu juga diambil ingatan bahawa hafazan peringkat ini boleh mencecah tempoh 40-60 hari, iaitu lebih panjang daripada tempoh hafazan pertama. Sedikit-demi sedikit, jurang tempoh akan mengecil. Oleh itu, lakukan pengulangan selepas pengabaian beberapa ketika sehingga tempoh memperbaiki menjadi hanya ‘satu hari’. Jika tahap ini telah tercapai, rekodkan pencapainnya ke tahap ‘hafazan sementara’. Tujuan proses ini ialah untuk memastikan hafazan kita dilakukan betul-betul mengikut tahap keupayaan otak kita. Maksudnya, hafazan yang dibuat di luar keupayaan otak untuk menanggungnya akan terpadam sendiri.(5) Dalam masa yang sama (iaitu selepas rubu’ 202 selesai dihafaz), teruskan hafazan ke rubu’ berikutnya (rubu’ 203) tanpa menunggu bahagian pertama tadi (rubu’ 201) sempurna diperbaiki. Ringkasnya, pada peringkat ini, kita itu mempunyai dua tugasan setiap hari iaitu (a) menghafaz bahagian baru dan (b) membetulkan yang lama.(6) Begitulah seterusnya sehinga semua 40 rubu’ pada segmen ini berjaya didaftarkan sebagai hafazan registration/flash. Elok diulangi semula peringatan di atas iaitu kita tidak perlu menunggu semua hafazan dilaksanakan dengan sempurna untuk beralih ke rubu’-rubu’ di hadapan. Di sinilah kita perlu benar-benar menghayati bahawa lupa dalah proses semula jadi yang perlu dibiarkan untuk ‘takes its own course’.(7) Pada peringkat ini juga, cuba jangan memasuki segmen baru sehingga kesemua 40 rubu’ dalam segmen ini mencapai tahap hafazan sementara. Sekiranya diteruskan juga, dibimbangi memberikan tekanan kepada mental kita kerana terlalu banyak ‘tugasan’ yang perlu dibuat (pengecualian akan dibincangkan dalam topik lain akan datang).(8) Sekiranya kita pernah menghafaz mana-mana surah atau rubu’ dalam segmen ini, terus catatkan dalam hafazan flash tanpa menghafaznya semula.(9) Cuba jangan mengisytiharkan mana-mana rubu’ telah mencapai hafazan tahap 3 (ingatan jangka panjang) sehingga kita yakin yang kita boleh membaca semula tanpa perlu membuat semakan. Ini bermakna hafazan tahap 3 mungkin hanya boleh dicapai selepas 2-3 tahun (tetapi mungkin juga mencecah tempoh 10 tahun) selepas pencapaian hafazan tahap 1. Perlu juga diingati, kita tidak perlu ‘terburu-buru’ mengisyiharkan pencapaian tahap 3 kerana selepas beberapa tahun, tanpa kita sedari ingatan kita mampu ‘mencari sendiri’ hafazan-hafazan lama walaupun tanpa membuat semakan. Inilah antara keistimewaan al-Quraan (cuba amati dengan teliti ayat terakhir daripada surah al-Ankabuut). Pengalaman sedemikian ada dinyatakan oleh Saidina Ali sebagai ‘seolah-olah mashaf terbuka dihadapannya’.(10) Jangan terlalu bimbang sekiranya masalah kelupaan berterusan. Fenomena ini berlaku kerana otak kita mengambil masa yang agak panjang (seperti yang dinyatakan di atas, mungkin mencecah 10 tahun) bagi menyesuaikan dan menyelaraskan semua rekod. Juga perlu diingat, setiap individu mempunyai kekuatan dan kelemahan yang berbeza-beza antara surah dengan surah yang lain. Selain daripada itu, seperti juga yang dibincangkan di bawah topik ‘Surah Generik dan Surah Unik’, tempoh masa penghafazan yang diambil antara satu surah dengan surah yang lain dijangkakan tidak akan sekata. Oleh itu, maha suci Allah yang segala urusan penghafazan berada di tangan-Nya. Maka, ada surah yang memerlukan cuma beberapa hari, malah ada yang beberapa minit sahaja. Ada pula yang memakan masa berbulan-bulan, malah ada yang bertahun-tahun. Oleh yang demikian juga, sekiranya kita telah berusaha tetapi masih juga tidak mencapai matlamat penghafazan dalam tempoh yang disasarkan, jangan dikesalkan sangat. Seperti yang pernah dibincangkan sebelum ini, membaca al-Quraan untuk tujuan menghafaz, dengan cara yang betul dan dengan niat yang ikhlas akan menjadi amal saleh yang diberi pahala di sisi Allah. Perbanyakkan doa agar kiranya gagal pada penilaian dunia semoga Allah mencatatkan sebagai huffaz di sisi-Nya.(11) Sekiranya keadaan memerlukan, mana-mana rubu’ boleh dipecahkan kepada bahagian-bahagian yang lebih kecil. Keadaan ini boleh berlaku terutamanya pada juzuk-juzuk 28, 29 dan 30....BERSAMBUNG.

#12 – Kepelbagaian Teknik Penghafazan

Berbanding dengan tips yang telah dibincangkan dalam tajuk-tajuk sebelum ini yang semuanya berasaskan nas-nas daripada al-Quraan, hadits dan ‘aathar, tips kali ini adalah berdasarkan contoh amalan pelajar-pelajar tahfiz. Perbincangan kali ini bukanlah untuk menyarankan apakah tip yang terbaik, sebaliknya sekadar untuk membuka minda kita bahawa perlunya kita membuat ‘exploration’ bagi mencari kaedah terbaik dan bersesuaian dengan kekuatan dan kelemahan diri kita. Di samping itu juga untuk memikirkan jenis teknik yang paling bersesuaian dengan “nature” kehidupan seharian kita. Namun, sebelum membincangkan teknik-teknik berkenaan elok juga diambil pengajaran daripada yang disarankan oleh Ibn ‘Abbas bila orang bertanya kepadanya bagaimana dia menghafaz. Beliau menjawab “aku baca, aku fahami dan aku amalkan”.

Jika diteliti jaguh-jaguh sukan beraksi, kita akan dapati mereka mempunyai banyak set teknik bagi memenangi sesuatu pertandingan. Ambil sahaja satu contoh kecil dalam Perlumbaan kereta F1 misalnya. Lihat kepelbagaian teknik pemandu ketika memasuki ‘pit-stop’. Begitu juga banyaknya teknik ‘lipat’ dalam sepak takraw. Malahan tentunya ramai yang arif tentang banyak jenis sepakan penalti dalam bola sepak. Cuba kita beberapa contoh yang diamalkan oleh sesetengah orang orang untuk menghafaz, seperti di bawah:

1. HAFAZAN TALAQQY

Salah seorang daripada guru saya bernama Isa berasal dari Sudan. Beliau mempunyai sanad penghafazan sehingga ke RasulAllah SAW yang yang tidak terputus hubungan talian sanadnya yang diwarisi dalam keluarganya dari satu generasi ke satu generasi. Teknik yang diajarkan ialah semasa dia membaca al-Quraan murid-muridnya mesti menulis ayat-ayat yang ditalaqqiykan. Setelah habis ditulis, mereka dikehendaki membacanya dan didengari oleh beliau untuk diperiksa. Sekiranya semua telah betul, murid-muridnya dikehendaki menghafaz seperti yang ditulis itu sahaja, bukan daripada mashaf. Menurut beliau, itulah teknik asal penghafazan al-Quraan yang diajari oleh Jibril. Oleh sebab RasulAllah tidak tahu menulis dan membaca, Baginda meminta orang lain untuk menulisnya (sila rujuk seerah).

2. HAFAZAN UNTUK SOLAT SUNAT

Beberapa hadis ada menyatakan bahawa betapa besarnya pahala membaca al-Quraan ketika bersolat. Seorang lagi guru saya yang bernama Dr. Yusuf dari Oman mengajarkan teknik menghafaz untuk solat sunat. Menggunakan kaedah ini, kita hanya perlu menghafaz lima ayat baru setiap hari yang setiap satu ayat akan dibaca dalam setiap solat sunat rawatib. Sedikit demi sedikit cantumkan ayat-ayat berkenaan sehingga lengkap menjadi satu rubu’ atau satu surah.

3. BED-TIME STORY

Mungkin banyak orang yang belum pernah mendengar bahawa membaca al-Quraan sama ada melalui lisan atau dalam hati merupakan ubat tidur yang mujarab bagi mereka yang menghadapi masalah untuk memulakan tidur. Ada pelajar-pelajar tahfiz mengambil kesempatan ini dengan ‘pura-pura’ menghafaz untuk memudahkan tidur. Caranya mudah, pilih sahaja mana-mana ayat, kemudian baca, pejamkan mata dan cuba ingat ayat-ayat tersebut dalam hati. Insya Allah, dalam beberapa minit akan tertidur. Kalau terjaga semula, ulangi dan sambung… sehingga terlelap.

4. HAFAZAN 1-2, 1-2.

Jenis ini merupakan teknik hafazan serius. Sama ada kita sedari atau tidak, menghafaz ayat-ayat tertentu dalam al-Quraan berbeza dalam konteks menghafaz keseluruhan al-Quraan. Prinsip yang mudah difahami ialah setiap ayat al-Quraan mempunyai kaitan atau ikatan dengan ayat sebelum dan selepasnya. Hafazan 1-2, 1-2 memerlukan kita menghafaz dua ayat pada setiap masa. Peringkat pertama dimulai dengan ayat no.1 dan no.2, kemudian no.2 dan no.3, kemudian no.3 dan no.4, sehinggalah tamat satu surah atau rubu’. Setelah tamat proses Peringkat pertama, masuki peringkat kedua dengan cuba menghafaz keseluruhan surah atau rubu’ berkenaan. Mungkin kaedah ini sesuai diamalkan bersama-sama kaedah No.2 di atas.

5. HAFAZAN 1-2-3

Sama seperti teknik di atas, teknik ini juga merupakan teknik hafazan serius. Caranya ialah dengan membaca tiga ayat serentak. Contohnya jika kita menghafaz ayat-ayat no. 1,2 dan 3, ketika kita menghafaz ayat no.1 kita perlu ‘membaca’ ayat no.2. Setelah ayat no.1 telah berjaya dihafaz, ulangi ayat tersebut tanpa melihat mashaf, kemudian cuba hafaz ayat no.2 (yang kita telah ‘baca’ ketika manghafaz ayat no.1), diikuti dengan ‘membaca’ ayat no.3. Begitulah seterusnya. Maksudnya, pembacaan ayat pertama merupakan proses ‘pengukuhan’ apa yang dihafaz. Ayat kedua adalah percubaan menghafaz. Ayat ketiga hanya dibaca sahaja. Ayat ketiga ini bukanlah setakat dibaca sahaja, tetapi membaca sehingga kita yakin sudah boleh dihafaz. Ini juga bermaksud bahawa kita hanya berhenti mengulangi ‘pengukuhan’ hafazan ayat pertama setelah ayat ketiga sudah di‘register’ dalam ingatan ikatan kita.

6. HAFAZAN DERAAN

Teknik ini nampak lebih serius. Saya pernah bertemu dengan salah seorang daripada imam dari England yang bernama ‘Uzair, amat baik hafazannya dalam semua sudut. Memerhatikan cara beliau membuat semakan, bolehlah diklasifikasikan sebagai ‘teknik deraan’. Setiap kali ‘terbuat’ silap atau ‘tersangkut’ dia akan kembali semula ke awal rubu’. Walaupun cara yang dipraktikkan oleh Imam ‘Uzair ini kelihatan seperti satu bentuk deraan, sebenarnya ada satu prinsip yang dipraktikkan. Prinsipnya ialah apabila kita memulakan bacaan untuk satu-satu rubu’, seawal ayat pertama lagi memori (otak) kita sudah sepatutnya mengumpulkan maklumat mengenai ayat-ayat di hadapan. Dengan kata lain, sekiranya kita mengimami solat dan mahu membaca satu surah yang mengandungi 50 ayat, pada ayat pertama lagi kita telah mempunyai ‘map’ untuk perjalanan seterusnya dah telahpun tahu apakah bacaan pada ayat ke-50 nanti.

7. HAFAZAN NON-COMMITTAL

Teknik ini lebih senang. Baca sahaja mana-mana surah atau rubu’ setiap hari tanpa terikat untuk menghafaz. Setelah beberapa hari, memori kita insya Allah akan boleh merakam ayat-ayat dengan mudah. Apabila kita telah menyedari ada ayat yang mula masuk dalam ingatan kita, cuba kembangkan ingatan pada ayat-ayat sebelum dan selepasnya. Bagaimana kalau terlupa?. Just forget it!. Insya Allah akan datang kembali. Maha Suci Allah yang menurunkan al-Quraan sebagai satu mukjizat yang di luar pemikiran manusia untuk memahaminya. Biasanya selepas 40-60 hari, keseluruhan satu rubu’ boleh dihafaz melalui cara sebegini.

8. HAFAZAN MENGUDUR (REVERSE)

Sama juga dengan kaedah di atas. Namun, kaedah ini merupakan pemakaian prinsip ‘pembinaan’ map seperti yang dinyatakan dalam kaedah ‘deraan’ tadi. Jika dibandingkan, kaedah ini lebih teratur berbanding hafazan non-committal di atas. Setiap hari cuba baca keseluruhan satu rubu’ atau surah. Pada akhir sesi, hafazkan ayat yang terakhir sahaja. Jadi, jika jumlah keseluruhan ayat adalah 60, mulakan hafazan dengan ayat no.60, kemudian ayat 59 dan begitulah seterusnya. Untuk memberikan impak yang lebih baik, hafazkan ayat-ayat terakhir tersebut dengan menggunakan teknik 1-2, 1-2 seperti yang dibincangkan di atas. Oleh sebab kita membaca rubu’ tersebut setiap hari, insya Allah sebelum sampai ayat ke-30, keseluruhan rubu’ telah berjaya dihafaz.

9. TEKNIK ‘GANJIL’

Dikatakan bahawa terdapat amalan sesetengah orang Arab yang menghafaz dengan memulakan menulis ayat-ayat yang hendak dihafaz. Setelah ayat tersebut berjaya dihafaz, pelajar-pelajar berkenaan membakar nota mereka, asapnya disedut dan abunya dilarutkan ke dalam air dan diminum. Menurut mereka ada hadith sahih (saya sendiri tidak ketemu matan dan riwayatnya – waAllahu a’lam) yang membawa maksud bahawa tulisan al-Quraan adalah penawar pelbagai penyakit dan pendiding daripada rasukan syaitan.

10 HAFAZAN PAST TIME

Mengikut cerita orang, orang-orang bekerja sebagai ‘jaga’ dan penjaga gate keretapi di Mesir semuanya hafiz, waAllah a’lam.

KESIMPULANNYA

1. Terdapat banyak teknik hafazan yang boleh dicuba untuk dipraktikan mengikut kemampuan ingatan kita dan yang bersesuaian dengan corak kehidupan seharian kita.

2. Penghafazan yang baik (sila lihat teknik no.1 dan 2), adalah melibatkan banyak anggota badan – mata, telinga, lidah dan tangan.

3. Teknik hafazan yang baik tidak semestinya yang membebankan, sebaliknya bersesuaian.

4. Jangan lupa, sama ada kita berjaya atau tidak bukanlah suatu perkara yang paling penting kerana membaca al-Quraan merupakan ibadah khusus yang pahalanya dikira daripada setiap huruf yang dibaca.


#13 : Membina Motivasi

Cuba tanyakan kepada diri kita sendiri, ‘kenapa saya harus menghafaz al-Quraan?’. Kemudian tanya pula mereka yang arif dalam soal motivasi diri, ‘bagaimanakah cara untuk berjaya mencapai cita-cita?’ dan ‘kenapa pula ada orang yang ‘mati celik?’. Mungkin ada pakar motivasi menyarankan bahawa orang-orang berjaya adalah mereka yang mempunyai kekuatan dalam diri dan mempunyai ‘definite purpose’ dalam perjuangan hidup.

Apakah pula ‘definite purpose’ para penghafaz al-Quraan?. Adakah kerana mengikut ‘trend’ atau kerana budaya satu-satu bangsa (terutamanya bangsa Arab)? Adakah kerana sekeping sijil atau kerana salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan akademik?. Mungkinkah juga bagi mencapai cita-cita untuk menjadi imam yang tersohor atau untuk digelar orang sebagai al-Hafiz, al-Qari’ wal-Muqri’?. Tanyakan diri kita sendiri, dari mana asalnya gelaran-gelaran tersebut? Adakah bersumberkan nas-nas yang sahih?, Adakah gelaran-gelaran tersebut telah wujud di zaman Rasul SAW, Sahabat dan Tabi-ein?

Untuk mengimbau cita-cita para huffaz, cuba lihat nas-nas berikut:

NAS-NAS KUMPULAN 1

Dari Abu Musa (R.A) meriwayatkan bahawa RasulAllah S.A.W bersabda (maksudnya), “antara orang-orang yang dimuliakan oleh Allah ialah orang tua Muslim, penghafaz al-Quraan yang tidak membuat silap; dan seseorang yang apabila diberi kuasa dia berlaku adil” [Riwayat Abu Dawud]; Nota : perkataan ‘ghairu ghali’ boleh diterjemahkan ke bahasa Inggeris sebagai ‘not aggressive when putting into practice and not taking shelter of far-fetched interpretations to justify own intellectual and religious perversion’

Jaabir (R.A) meriwayatkan bahawa, selepas peperangan Uhud, ketika sedang mengaturkan susunan kedudukan di dalam liang lahad bagi dua jenazah tentera yang syahid, RasulAllah S.A.W bertanya kepada para Sahabat (maksudnya), “siapakah di kalangan mereka ini yang lebih banyak hafazan al-Quraannya?”. Mana-mana yang dikenal pasti sebagai lebih lebih hafiz akan disemadikan terlebih dahulu [Riwayat Bukhari].

NAS-NAS KUMPULAN 2

Siapakah Ibn ‘Abbas?. Namanya Abdullah bin ‘Abbas bin ‘Abdul Mutalib. Beliau ialah sepupu RasulAllah S.A.W. Ketika beliau dilahirkan, RasulAllah S.A.W. berdoa supaya Allah mengurniakan bayi tersebut tiga perkara iaitu supaya (1) menjadi seorang yang faqih-fi-ddin, (2) diajarkan oleh Allah mengenai ‘ta’weel’ al-Quraan, dan (3) ditunjukkan kepadanya ‘sirat al-mustaqeem’. Selepas RasulAllah S.A.W. wafat beliau telah menjadi pakar rujuk kepada semua sahabat termasuk Khulafa’ al-Rasyideen. Oleh kerana faqihnya beliau dalam hukum-hakam dan tersangat tinggi kefahamannya mengenai ‘ta’weel’ al-Quraan, beliau banyak menegur tafsiran-tafsiran al-Quraan yang tidak tepat yang dilakukan oleh para Sahabat dan Tabi-een. Ibn ‘Abbas dianggap oleh para Sahabat sebagai lautan ilmu. Sekiranya kita meneliti latar belakang para ulama’ yang masyhur, sama juga seperti Ibn ‘Abbas, tiada seorangpun daripada mereka yang tidak menghafaz al-Quraan. Pendek kata, tidak sempurna kefaqihan seseorang tanpa menghafaz al-Quraan.

NAS-NAS KUMPULAN 3

Dalam ayat Aali-’Imraan, ayat no. 146, Allah SWT menyatakan bahawa ramai daripada mereka yang berperang bersama-sama para nabi adalah yang bersifat ‘Rabbaniyy’. Di tempat lain, di surah yang sama pada ayat no. 79, Allah SWT menjelaskan bahawa antara tugas para Rasul ialah untuk menyeru manusia supaya masuk ke dalam golongan ‘Rabbaniyyun’ - iaitu dengan cara mempelajari belajar ‘Kitab Allah’. Dalam konteks yang sama tetapi daripada perspektif yang berbeza, jika kita tinjau sejarah Islam, rata-rata para sejarawan bersetuju bahawa inisiatif pengumpulan dan penulisan al-Quraan adalah berpunca daripada kebimbangan para Sahabat terhadap ramainya penghafaz al-Quraan yang gugur syahid dalam peperangan-peperangan, samada di zaman Rasul S.A.W. atau selepasnya. Hatta di zaman kita hari inipun, ramai daripada ulama’ yang gugur syahid adalah terdiri daripada penghafaz al-Quraan. Imam Hasan al-Banna, Sayyid Qutb dan Sheikh Ahmed Ismail Yassin hanyalah sebahagian daripada contoh. Ringkasnya, sejarah mengisyaratkan bahawa terdapat kaitan yang rapat antara menghafaz al-Quraan dan peluang untuk mati syahid.

NAS KUMPULAN 4

Daripada ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘As, RasulAllah (SAW) bersabda (maksudnya), ‘pada hari kiamat nanti, Sahibul-Quraan akan diperintahkan oleh Allah dengan “bacalah dan naiklah darjat kamu dan bacalah ia sebagaimana kamu membacanya di dunia. Darjat kamu akan ditentukan pada ayat terakhir kamu mampu membacanya”…’

KESIMPULAN

Daripada nas-nas al-Quraan, hadith, seerah dan dan sejarah sekurang-kurang ada empat ‘definite purpose’ yang yang menjadi motivasi untuk mendorong generasi terdahulu untuk menghafaz al-Quraan, iaitu:

PERTAMA – Dimuliakan oleh Allah semasa masih hidup lagi sehinggalah kepada penentuan kedudukan di dalam liang lahad;

KEDUA – Sebagai syarat kesempurnaan untuk kefaqihan dalam soal-soal agama;

KETIGA – Bagi mendekatkan diri kepada peluang untuk mati syahid;

KEEMPAT – Sebagai persediaan untuk menyahut perintah Allah supaya membaca al-Quraan di Padang Mahsyar nanti.


#14 : Sediakan Diri Untuk Hidup Sebagai Seorang Hafiz

Proses penghafazan al-Quraan lebih mengutamakan aspek ibadah dan spiritual dan tidak melebihkan aspek akademik, mental dan kemahiran. Oleh itu ciri-ciri ibadahnya harus diambil diambil berat. Dengan itu, banyak do’s and don’ts yang perlu diambil perhatian. Jikalau hendak disenaraikan satu persatu, amatlah banyak. Mungkin bermula daripada amalan sebesar-besarnya iaitu berjihad dan berperang di jalan Allah sehingga sekecil-kecil amalan yang mungkin termasuklah bersopan di jalan raya. Memadailah pada peluang yang sedikit ini kita membincangkan beberapa amalan sunat yang diangap kecil tetapi mempunyai kaitan langsung dengan proses penghazan.
1. Lazimkan mendirikan solat nawafil (solat sunat).

Terdapat banyak riwayat yang menyatakan membaca al-Quraan dalam solat nawafil merupakan amalan lazim RasulAllah SAW. Jika kita lihat dalam kitab-kitab fiqh, terdapat pelbagai jenis solat nawafil yang diamalkan RasulAllah SAW. Antaranya, solat tahajjud, witir, dhuha dan solat-solat sunat qabliyah dan ba’diyah untuk solat-solat fardhu. Daripada amalan-amalan RasulAllah SAW serta para Salaf-as-Soleh, dapatlah disimpulkan bahawa membaca al-Quraan dalam solat nawafil, terutamanya solat tahajjud, merupakan ‘formal presentation’ daripada daripada penghafaz al-Quraan kepada Allah SWT, atau ‘formal audience’ daripada seorang hamba untuk ‘mendengar’ Kalam Allah yang mulia itu. Andaian ini sama sahaja dengan hipotesis bahawa seseorang itu mempunyai kepakaran dalam bidang ilmu, seni atau sukan. Sekiranya beliau tidak pernah berpeluang untuk membuat ‘formal presentation’ sama ada dalam bentuk perlawanan atau pertunjukan, lama-kelamaan kepakaran yang ada akan hilang sedikit demi sedikit. Sebab itu juga, jika kita meneliti seerah atau membaca sejarah para Sahabat dan para ulama’ besar, kita mendapati bahaw mereka menghabiskan masa yang panjang mendirikan solat nawafil dengan membaca surah yang panjang-panjang.
2. Lazimkan mendirikan solat berjamaah.

Terutamanya kepada orang lelaki, solat jemaah harus menjadi amalan yang diambil berat. Terdapat hadith-hadith yang yang menjelaskan kepentingan solat berjamaah. Sebagaimana sukarnya untuk menemui nas yang menunjukkan RasulAllah SAW biasa mendirikan solat fardhu secara bersendirian, anggaplah mendirikan solat fardhu secara berjamaah di masjid sebagai satu kemestian. Selain daripada itu, kita harus mengambil ingatan bahawa banyak Sahabat RasulAllah yang ternama yang menghabiskan sebahagian besar hayat mereka hanya menjadi makmum. Berdasarkan mafhum ayat 78 surah al-Israa’, ramai mufassir menyarankan bahawa solat subuh berjamaah di masjid merupakan ibadah yang tidak dapat dielakkan. Daripada mafhum ayat tersebut dan amalan RasulAllah yang membaca surah yang panjang (sehingga 60 ayat), para mufassir mengandaikan bahawa solat subuh berjamaah adalah majlis yang disaksikan oleh para malaikat yang ‘bertukar shift’ antara ‘shift’ siang dan malam. Terdapat riwayat menyatakan apabila para pulang ke langit, perkara pertama yang dilaporkan ialah amalan anak Adam ketika mereka meninggalkan kita. Bagi mengaitkan amalan solat berjamaah, terutamanya solat subuh, dengan proses tahfiz, cuba lihat fenomena yang menjadi realiti dalam kehidupan kita. Bagaimana kita boleh menjadi orang ‘seni’ kalau kita tidak biasa menghadiri majlis-majlis seni. Begitu juga, bagaimana kita boleh menjadi ‘Ahlul-Quraan’ (istilah ini digunakan dalam sesetegah hadis) jika kita tidak biasa menghadiri ‘majlis al-Quraan’ yakni, solat subuh berjamaah di masjid.

Semasa mengiltizamkan diri amalan-amalan di atas, perlu juga diberikan perhatian serius terhadap tahap kemampuan kita dalam melaksanakan amalan-amalan sunat. Jika amalan kita yang sedia ada masih di tahap rendah, perubahan yang drastik boleh memberikan implikasi negatif. Sebaliknya, sekira kita terlalu memanjakan diri kita, kemajuan tidak boleh dicapai. Ambillah jalan yang bijaksana. Rancang penghayatan amalan-amalan sunat dengan teliti supaya kita sentiasa suka melaksanakannya. Carilah jalan yang baik supaya amalan-amalan tersebut tidak menjadi ‘terpaksa’. Mulakannya satu persatu. Jangan terburu-buru menambah amalan baru sebelum difikirkan semasak-masaknya. Mulakannya dengan yang ringan, mudah dan ‘enjoying’. Benarkan diri sendiri ‘berehat’ apabila terasa ‘penat’ mengamalkannya dan janganlah berasa bersalah untuk mengambil rehat. Mulakan semula apabila telah bersedia semula. Pertimbangkan satu tempoh yang panjang, barangkali setahun atau dua tahun, untuk berilitizam dengan satu-satu amalan baru. Di samping itu, sokongi amalan-amalan tersebut dengan memahami fadhilat-fadhilatnya. Oleh itu, untuk merancang solat nawafil (yang dibincangkan di atas), yang berkekalan seterusnya dapat membantu mengukuhkan hafazan, petua-petua di bawah ini mungkin boleh dimanfaatkan, iaitu:

(a) sentiasalah ingat akan nasihat yang menyarankan bahawa amalan yang disukai oleh Allah adalah yang sedikit tetapi berkekalan;

(b) manfaatkan bulan Ramadhan sebagai permulaan bagi satu-satu amalan baru atau menambahkan amalan yang sedia ada;

(c) buat ‘arrangement’ dengan menentukan solat sunat tertentu untuk hafazan bahagian tertentu. Contohnya, juzu’ 25 hingga 30 dibaca dalam solat sunat lepas maghrib, juzu’ 1-10 semasa solat Tahajjud, 10-15 di solat Dhuha. Amalkan satu-satu ‘arrangement’ untuk satu tempoh yang munasabah. Mungkin setahun. Tetapi apabila terasa tak ‘confortable’ ubahkan ‘arrangement’nya supaya bersesuaian dengan rutin harian kita;

(d) setiap kali memulakan satu-satu ‘arrangement’ mulakan dengan surah yang sependek-pendeknya, contohnya dengan surah ‘al-ikhlas’. Selepas kita berpuas hati bahawa kita memang sudah ‘committed’ dengan amalan tersebut, baru cuba membaca surah lain yang telah dihafaz mengikut susunan yang telah dirancang;

(e) kepada yang belum biasa dengan solat tahajjud, pada peringkat permulaan, mungkin dalam tempoh setahun, cuba jangan bersolat melebihi lima minit;

(f) kalau hati kita ‘bergelojak’ hendak menambahkan amalan, fikir semasak-masaknya, dibimbangi desakan syaitan yang merancang untuk ‘sabotaj’ komitmen kita. Jika berlaku juga, berniatlah bahawa ‘sama ada aku bersolat sunat atau meninggalkan solat sunat kedua-duanya kerana Allah’.

Menegnai solat subuh, kepada yang belum biasa untuk ‘commit’ untuk bersolat berjamaah di masjid, mungkin panduan ini berguna:

(a) mulakannya pada bulan Ramadhan;

(b) setelah habis bulan Ramadhan, teruskan pada bulan Syawwal sehingga menjadi 40 hari;

(c) setelah itu rancang jadual mingguan dengan menetapkan beberapa hari dalam seminggu ‘mesti’ pergi masjid. Kemudian, ‘improve’kan sedikit-demi sedikit;

(d) janganlah terikat sangat dengan amalan jemaah lain yang membaca wirid yang panjang-panjang. Sebagai permulaan, tiada salahnya untuk pergi ke masjid untuk tempoh yang sependek-pendeknya. Oleh itu juga tiada salahnya sampai di masjid selepas iqamah dan meninggalkan jemaah sebaik sahaja selepas memberi salam.

3. Sentiasalah memohon ampun, beristighfar dan bertaubat.

Jangan sekali-kali menganggap kita tidak pernah melakukan dosa besar dan tidak perlu bertaubat. Dalam ayat 49, surah an-Nisaa’, Allah menceritakan bahawa tanggapan sedemikian merupakan amalan Yahudi dan Kristian. Oleh itu, umat Islam tidak harus berbuat demikian. Sebaliknya kita perlu sentiasa memohon ampun dan terus mengharapkan keampunan, walau sebaik manapun kita ini, sehinggalah sampai ajal kita. Bahkan, RasulAllah yang sudah terjamin kedudukannya yang tertinggi dalam syurgapun bertaubat tidak kurang daripada 70 kali sehari semalam. Dalam ayat 70, surah al-Furqan Allah menjelaskan taubat yang diikuti dengan pengukuhan iman dan penambahan amalan soleh merupakan taubat yang terbaik yang segala dosa yang pernah dilakukan bukan sahaja diampunkan, bahkan di’convert’ menjadi pahala.
4. Lazimkan berdoa untuk mukminin dan mukminat.

Amalan mendoakan mukminin dan muminat memang menjadi ‘rutin’ setiap muslim. Terutamanya apabila berdoa dan memohon ‘Allahumma ighfir lil-mukminin wal mukminat… ’. Secara dasarnya amalan tersebut merupakan perintah Allah melalui ayat 19 surah Muhammad. Namun, dari segi praktikalnya tidaklah semudah mengamalkannya seperti membaca doa harian. Bahkan, memerlukan amalan lain yang menunjukkan ‘keikhlasan’ kita ketika berdoa yang antaranya:

(a) sentiasa memaafkan kesalahan peribadi orang lain ke atas kita;

(b) tidak mengumpat, memandang rendah atau su’zann (sangka buruk) kepada sesiapa;

(c) sentiasa mengharapkan dan mendoakan kebaikan untuk orang lain;

(d) amalkan penghidupan sebagai seorang yang ber‘pleasing personality’ dengan kemurahan senyuman, ringan tulang dan mempunyai ‘positive attitude’.

5. Jaga lidah.

Lidah seseorang hafiz itu seharusnya bersih. Jauhkan diri daripada bercakap lagha dan berada di majlis atau suasana lagha. Jangan sama sekali mengumpat atau membicarakan perkara-perkara gossip serta isu-isu yang kita sendiri tidak menghetahui kesahihannya. Dalam ayat 36, surah al-Isra’, Allah SAW selepas menegah kita memperkatakan sesuatu yang kita sendiri pun tidak mengetahuinya, memberi amaran bahawa telinga, mata dan hati akan ditanya oleh-Nya pada hari Akhirat kelak. Jangan ketawa berdekah-dekah. Saidina Abu Bakar berkata, ketawa berdekah-dekah itu mematikan hati.

Apakah kaitan amalan-amalan yang dibincangkan di perenggan 3, 4 dan 5 di atas dengan proses penghafazan al-Quraan?. Sesungguhnya seseorang yang menghafaz al-Quraan itu, mukanya adalah cerminan perkara yang ada dalam hatinya. Jika di hadapan kita ia dia menunjukkan kebaikan dan kejujurannya, di belakang kita dia mendoakan keampunan dan kebaikan buat kita. Sesungguhnya juga al-Quraan itu Nur yang suci daripada Allah (at-Taghaabun, 8) yang hanya boleh ditulis dalam hati insan-insan yang berusahanya mensucikan hatinya. Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang sentiasa mensucikan jiwanya (as-Syams, 8) .
6. Take care!.

Jaga diri sendiri, jaga kesihatan, jaga pemakanan. Hal ini bukan sahaja soal kesihatan, bahkan berkali-kali Allah mengulangi dalam al-Quraan perintah supaya orang-orang mukmin mengambil berat soal makan minum yang baik-baik. Contohnya, cuba lihat ayat-ayat 168 dan 176, surah al-Baqarah. Cuba juga lihat doa Nabi Ibrahim buat anak-cucunya dan untuk kita semua dalam ayat 126 surah al-Baqarah dan ayat 37 surah Ibrahim. Rasional amalan penjagaan kesihatan dan pemakanan ialah tugasan menghafaz al-Quraan bukanlah kerja yang mudah. Tugasan ini memerlukan bekalan makanan dan zat yang mencukupi untuk otak kita. Badan kita yang menyokong otak kita itu pula perlu cukup sihat dan cukup kuat. Ingatkah kita firman Allah yang menyatakan jika al-Quraan itu diturunkan ke atas gunung, gunung akan runtuh. Di samping itu, banyak doa-doa RasulAllah yang berkaitan dengan kesihatan. Amalkannya!.
7. Tunaikan tanggungjawab sebagai seorang hafiz.

Satu daripadanya ialah jika dikehendaki mengimami solat, jangan cuba mencari ‘excuse’ untuk menolak. Hal ini kerana menurut syara’ tugasan ‘keimaman’ adalah tertanggung ke atas pundak seseorang yang baik bacaan al-Quraannya dan seseorang yang lebih banyak hafazannya. Eloklah kita tidak menganggap mana-mana ayat yang Allah berikan kepada kita menghafaznya sebagai pemberian percuma. Hadiah tersebut datang dengan tanggungjawab. Laksanakan tugas keimaman dengan komitment yang terbaik. Di samping itu, jagalah hak makmum sebaik-baiknya. Jika membaca surah yang panjang, jangan cuba melebihi amalan para Sahabat. Namun, jika kita tidak dijemput untuk menjadi imam, janganlah mengharap sama sekali. Kelak timbul rasa ‘riya’. Tiada salahnya jika kita terus menjadi makmum. seperti yang dibincangkan di atas, banyak Sahabat RasulAllah yang ternama dan menjadi ahlul-jannah yang menghabiskan sebahagian besar hayat mereka hanya menjadi makmum. Kalau orang lain yang sentiasa mengimami kita mutu bacaannya ‘agak rendah’, kalau kita tidak mampu menegurnya, jangan ‘mengkritik di belakangnya. Malahan, sentiasalah berdoa supaya solatnya diterima Allah. Jika kita diminta orang untuk berdoa untuk dirinya, laksanakan dengan sebaik-baiknya. Jika kita diminta mengajar al-Quran atau apa-apa ilmu, laksanakannya dengan tidak mengharapkan apa-apa habuan atau pengiktirafan. Harapkan keredhaan Allah dan Rasul-Nya jua yang harganya lebih mahal daripada dunia dan segala isinya.

Kesimpulannya, berakhlakkan al-Quraan ialah sebesar-besar sunnah RasulAllah SAW. RasulAllah SAW hidup dengan al-Quraan dan al-Quraan ‘hidup’ dalam kehidupan hariannya. Bagi menjayakan cita-cita untuk menghafaz al-Quraan kita perlu menyediakan diri dengan belajar untuk menghayati cara untuk ‘menghidupkan’ al-Quraan dalam diri kita.

#15 : Tajuk : Kenali ‘Lay Out’ Al-Quraan ( Bahagian 2 )

Al-Quraan yang diturunkan melalui wahyu Jibril dibacakan secara lisan kepada RasulAllah. Mashaf yang ada pada kita hari ini adalah catatan yang diambil daripada RasulAllah sebaik sahaja diterima dariapa Jibril. Jumhur ulama’ bersetuju bahawa susunan ayat-ayat dan surah-surah telah ditentukan ketika ayat-ayat al-Quraan diturunkan. Kepada penghafaz al-Quraan, susunan surah-surah memberi kesan dalam menyusun strategi penghafazan.

Kita sedia maklum bahawa mashaf al-Quraan mengandungi 114 surah yang dibahagikan kepada 30 juzu’. Apabila dianalisis secara ringkas, pembahagian surah mengikut juzu’-juzu’ boleh disenaraikan seperti berikut:

Juzu’ 1 – 5 : surah al-Fatihah hingga sebahagian surah an-Nisaa’ (jumlah : 2 + [tanpa mengambi kira al-Fatihah]);

Juzu’ 6 – 10 : sebahagian surah an-Nisaa’ hingga sebahagian surah at-Taubah (jumlah : 4 +);

Juzu’ 11 – 15 : sebahagian surah at-Taubah hingga sebahagian surah al-Kahfi (jumlah : 8 +);

Juzu’ 16 – 20 : sebahagian surah al-Kahfi hingga sebahagian surah al-Ankabuut (jumlah : 10 +);

Juzu’ 21 – 25 : sebahagian surah al-Ankabuut hingga surah al-Jaathiyah (jumlah : 16 +); dan

Juzu’ 26 – 30 : surah al-Ahqaaf hingga sebahagian surah al-Naas (jumlah : 69).

Daripada pembahagian di atas, jelas kepada kita bahawa susunan surah-surah al-Quran bermula dengan surah-surah yang panjang-panjang dan berakhir dengan yang pendek-pendek. Sebab itulah tujuh surah petama selepas surah al-Fatihah dipanggil oleh sesetengah orang sebagai sab’un mutawwilaat (tujuh yang panjang).

Sungguhpun tiada kajian saintifik pernah dibuat, pengalaman ramai pelajar tahfiz menyatakan bahawa menghafaz ketujuh-tujuh surah-surah sab’un mutawwilaat (terutamanya an-Nisaa’ dan al-Baqarah) merupakan ujian yang paling getir, mungkin berasas. Antara faktor kesukaran menghafaz surah-surah awal ialah:

(a) saiznya yang besar yang susah di‘digest’ oleh ingatan kita;

(b) kebanyakannya mengandungi ayat-ayat hukum. Antara ciri-ciri ayat-ayat hukum ialah:

(i) setiap satu ayatnya panjang dan di dalamnya mengandungi beberapa sub-ayat. Contohnya ayat no.6 surah al-Maaidah. Secara kasarnya ayat tersebut mengandungi sekurang-kurangnya enam sub-ayat. Cuba lihat pula ayat 106 al-Baqarah yang mengandungi 9 sub-ayat. Manakala ayat yang terpanjang dalam al-Quraan, ayat 282 al-Baqarah secara kasarnya mengandungi 20 sub-ayat. Bandingkan pula dengan surah al-A’la yang merupakan antara surah yang panjang dalam juzuk ke-30. Walaupun merupakan satu surah yang lengkap, surah ini mengandungi 19 ayat. Oleh itu, jika tidak berhati-hati, kerap berlaku ‘errors and omissions’ pada sub-ayat; dan

(ii) menjadi kelaziman bahawa ayat-ayat hukum diakhiri dengan pujian kepada Allah SWT. Cuba lihat ayat-ayat 11, 12, 16, 17, 23, 24, 26, (32 dan 33), 39, (34 dan 35), (75 dan 76), 56, 96, 104, 111, 127, 130 dan 170 surah an-Nisaa’. Cuba telitikan persamaan dan perbezaan sub-ayat yang menjadi penutup setiap ayat tersebut. Oleh yang demikian, ramai yang berpendapat bahawa memulakan hafazan dengan surah al-Baqarah bukanlah strategi yang baik. Sebab itulah banyak institusi tahfiz tidak memulakannya dengan surah tersebut, sebaliknya banyak institusi tahfiz tradisional Arab memulakannya sama ada daripada surah Kahfi (Juzu’ ke-15), an-Naml (Juzu’ ke-19/20) atau Juzu’ ke-25. Atau, ada yang menghendaki para pelajar menguasai sepenuhnya juzu’ Amma (juzu’ ke-30) terlebih dahulu. Selepas surah-surah pendek (tidak semestinya mudah) itu dikuasai, barulah para pelajar dibenarkan untuk mula menghafaz surah al-Baqarah. Antara faktornya ialah:

(a) saiz surah-surah di dalam juzu’ selepas surah al-Kahfi adalah kecil dan mudah diurus. Oleh itu juga, hasilnya mudah kelihatan dan cepat diperoleh. Hal ini boleh memberi motivasi untuk meneruskan penghafazan surah-surah seterusnya;

(b) surah-surah pendek selalu didengari kerana biasa dibaca oleh imam-imam ketika solat fardhu, jadi boleh mengukuhkan ingatan;

(c) persamaan-persamaan dan perbezaan-perbezaan yang terdapat dalam ayat-ayat hukum seperti yang dibincangkan di atas biasanya hanya boleh dikenal pasti oleh penghafaz-penghafaz yang berpengalaman. Kadang-kadang perbezaannya amat kecil, contohnya hanya pertukaran antara ‘wa’ dan ‘kana’. Cuba bandingkan ayat terakhir surah an-Nur dan ayat terakhir surah al-Anfaal. Bandingkan juga persamaan dan perbezaan ayat 48 dengan ayat 123 surah al-Baqarah. Jadi, memulakan hafazan dengan surah-surah pendek merupakan proses pembentukan memori bagi menguasai cabaran-cabaran yang lebih besar, terutamanya untuk menghafaz surah-surah sab’un mutawwilaat; dan(d) selain daripada itu juga, jika seseorang telah melalui pengalaman menghafaz surah-surah dalam juzu’ ke-30, surah al-A’la – katakan dia mengambil masa sebulan, dia boleh mengagak (estimate) berapa panjang tempoh yang diperlukan bagi menghafaz hanya satu ayat panjang, contohnya ayat 282 al-Baqarah.



#16 : Masalah Di Permulaan Surah

Kepada yang pernah cuba menghafaz al-Quraan, mungkin pernah menemui ayat-ayat di permulaan surah yang kelihatan mudah untuk diingat tetapi sukar dihafaz. Secara ringkasnya bolehlah dikatakan bahawa banyak surah yang dimulakan dengan cara yang seragam. Jika dipandang daripada sudut yang positif, keadaan ini boleh memudahkan penghafazan kerana kita telah biasa mendengar atau membaca ayat-ayat berkenaan. Jika dipandang dari sudut lain pula, keadaan ini boleh mengelirukan kerana terdapat persamaan yang ketara antara ayat-ayat berkenaan. Sebagai contoh, cuba bandingkan ayat-ayat di bawah:

(a) ayat 1 hingga 4 surah al-Baqarah dengan ayat 2 hingga 6 surah Luqman;

(b) ayat 1 hingga 3 surah as-Syu’araa’ dengan ayat 1 surah an-Naml dan ayat 1 dan surah al-Qasas; dan

(c) ayat 1 surah Yusuf dengan ayat 1 dan 2 surah Luqman.

Jika dibuat analisis ringkas ke atas surah-surah panjang iaitu surah-surah daripada juzu’ pertama hingga juzu’ ke-28, ayat-ayat dipermulaan surah boleh dibahagikan kepada empat kumpulan seperti berikut:

Surah-surah yang dimulakan dengan pujian kepada Allah. Contohnya:

1. Al-Fatihah

2. An-Nahl

3. Al-Kahf

4. Al-Furqaan

5. Saba’

6. Al-Faatir

7. As-Saffaat

8. Ar-Rahmaan

9. Al-Hadid

10. Al-Hasyr

11. As-Saff

12. Al-Jumu’ah

13. At-Taghabun

Surah-surah yang dimulakan dengan memperihalkan tentang al-Quraan. Contohnya:

1.

Al-Baqarah

2.

Aali-‘Emraan

3.

Al-‘araaf

4.

Yunus

5.

Hud

6.

Yusuf

7.

Ar-Ra’d

8.

Ibraaheem

9.

Al-Hijr

10.

Taaha

11.

An-Noor

12.

As-Syuaraa’

13.

An-Naml

14.

Al-Qasas

15.

Luqmaan

16.

As-Sajdah

17.

Yaasin

18.

Saad

19.

Az-Zumar

20.

Ghafir

21.

Al-Fussilat

22.

As-Syuura

23.

Al-Zukhruf

24.

Ad-Dukhaan

25.

Al-Jaathiyah

26.

Al-Ahqaaf

27.

Qaf

28.

At-Tuur

Surah-surah yang dimulakan dengan ayat-ayat hukum. Contohnya:

1.

An-Nisaa’

2.

Al-An’aam

3.

Al-Maaidah

4.

Al-Anfaal

5.

At-Taubah

6.

Al-Ahzaab

7.

Muhammad

8.

Al-Hujurat

9.

Al-Mujaadalah

10.

Al-Mumtahanah

11.

At-Talaaq

12.

At-Tahreem

Surah-surah yang dimulakan dengan ayat-ayat mengenai hari Qiamat. Contohnya:

1.

Al-Anbiyaa’

2.

Al-Hajj

3.

Az-Zariyat

4.

Al-Qamar

5.

Al-Waqi’ah

Masalah yang dihadapi oleh ramai penghafaz ialah setelah menamatkan hafazan sesetengah surah berkenaan mereka berasa bahawa mereka telah dapat menguasai keseluruhan surah dengan betul. Namun, apabila dibaca semula surah berkenaan, mereka tidak pasti samaada hafazan mereka, terutamanya pada ayat-ayat pembukaan setiap surah, tepat atau tidak kerana terdapat ayat-ayat pembukaan surah lain yang hampir serupa. Atau, pada permulaannya, sesetengah penghafaz al-Quraan mendapati agak mudah untuk mengingati ayat-ayat pembukaan surah-surah yang dinyatakan di atas. Namun, dalam tempoh yang singkat, ayat-ayat tersebut hilang daripada ingatan.

Jika masalah ini berlaku, janganlah dibimbangkan sangat. Teruskan menghafaz ayat-ayat berikutnya dalam surah berkenaan. Janganlah menjadikan kesukaran menghafaz ayat-ayat awal surah sebagai penghalang kepada penghafazan keseluruhan surah. Janganlah juga ‘memaksa diri’ menghafaz atau terlalu menumpukan perhatian kepada ayat-ayat awal surah yang akibatnya sasaran untuk menghafaz keseluruhan al-Quraan tidak tercapai. Pada hakikatnya untuk ingatan kita memerlukan masa untuk menyelaraskan hafazan kita terhadap ayat-ayat awal surah. Melalui semakan semula (revision) dalam tempoh tertentu penyelarasan akan berlaku secara ‘natural’ tanpa dipaksa.


#17 : Tajuk : Fakta Angka

Pernahke kita membuat estimation berapa lama tempoh yang diperlukan bagi menghafaz seluruh al-Quraan?

Cuba lihat kiraan yang berikut:

Jika kita menghafaz 1 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 17 tahun 9 bulan dan 0 hari.

Jika kita menghafaz 2 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 8 tahun 9 bulan dan 18 hari.

Jika kita menghafaz 3 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 5 tahun 10 bulan dan 13 hari.

Jika kita menghafaz 4 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 4 tahun 4 bulan dan 24 hari.

Jika kita menghafaz 5 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 3 tahun 6 bulan dan 7 hari.

Jika kita menghafaz 6 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 2 tahun 11 bulan dan 4 hari.

Jika kita menghafaz 7 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 2 tahun 2 bulan dan 3 hari.

Jika kita menghafaz 8 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 2 tahun 2 bulan dan 12 hari.

Jika kita menghafaz 9 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 1 tahun 11 bulan dan 12 hari.

Jika kita menghafaz 10 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 1 tahun 9 bulan dan 3 hari.

Jika kita menghafaz 11 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 1 tahun 7 bulan dan 6 hari.

Jika kita menghafaz 12 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 1 tahun 5 bulan dan 15 hari.

Jika kita menghafaz 13 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 1 tahun 4 bulan dan 6 hari.

Jika kita menghafaz 14 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 1 tahun 3 bulan dan 0 hari.

Jika kita menghafaz 15 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 1 tahun 2 bulan dan 1 hari.

Jika kita menghafaz 16 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 1 tahun 1 bulan dan 6 hari.

Jika kita menghafaz 17 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 1 tahun 10 bulan dan 0 hari.

Jika kita menghafaz 18 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 11 bulan dan 19 hari.

Jika kita menghafaz 19 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 11 bulan dan 0 hari.

Jika kita menghafaz 20 ayat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 10 bulan dan 16 hari.

Jika kita menghafaz 1 mukasurat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 1 tahun 8 bulan dan 12 hari.

Jika kita menghafaz 2 mukasurat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 10 bulan dan 6 hari.

Jika kita menghafaz 3 mukasurat sehari kita akan tamat hafazan dalam tempoh 8 bulan dan 12 hari.

Kiraan ini sumbangan Sdra Fahd Al-Kandari dari Kuwait.

#18 : Doa Untuk Saiyidina Ali

At-Tirmizi dan Al-Hakeem meriwayatkan bahawa Ibnu Abbas (R.A.) menceritakan, pada suatu hari ketika itu beliau berada bersama-sama RasulAllah (SAW), kemudian datang Sayidina Ali bin Abi Talib (K.W) dan mengadu, “Ya RasulAllah (SAW) engkau adalah aku cintai lebih daripada ibu dan bapaku sendiri. Ya RasulAllah (SAW), aku telah cuba menghafaz Al-Quran, tetapi setiap kali aku melakukannya hafazanku hilang dari ingatan”. RasulAllah (SAW) bersabda, maksudnya, “bolehkah aku ajarkan satu cara yang berkesan untukmu dan setiap orang yang engkau sampaikan kepadanya?. Dengan cara itu kamu boleh (insya Allah) mengingati apa saja yang engkau pelajari”.

Kemudian Rasullah mengajarkan kepada Ali (KW), apabila malam Jumaat mendatang, bangunlah pada sepertiga akhirnya, itulah yang sebaik-baiknya. Itulah juga sebaik-baik bahagian daripada waktu malam, pada ketika itu jugalah malaikat turun dari langit dan pada ketika itu jugalah doa dimakbulkan. Pada ketika itu jugalah Nabi Allah Ya’qub bangun berdoa semoga Allah mengapunkan dosa anak-anaknya. Jika kamu tidak boleh bangun pada waktu itu, bagunlah di tengah-tengah malam. Jika tidak boleh juga, boleh juga dilakukan pada bahagian awal daripada malam. Dirikan solat empat raka’at (dengan dua salam). Pada raka’at pertama selepas membaca Al-Fatihah, bacalah surah Yaasin. Kemudian di raka’at kedua, selepas membaca sura Al-Fatihah, bacalah surah Ad-Dukhan. Pada raka’at ketiga, selepas membaca Al-Fatihah, bacalah surah As-Sajadah dan pada raka’at keempat, selepas membaca Al-Fatihah, bacalah surah Al-Mulk. Setelah selesai membaca At-tahhiyat (iaitu sebelum salam pada rakaat keempat), persembahkanlah puji-pujian kepada Allah, kemudian berilah selawat dan salam ke atasku. Selepas itu, pohonlah keampunan (istighfar) untuk mu’minin dan mu’minat, serta untuk arwah muslimin dan muslimat. Kemudian, bacalah doa berikut:

Maksud doa (lebih-kurang):

Ya Allah, kasihilah daku dengan dikurniakan dengan dapat meninggalkan maksiat buat selama-lamanya, kasihilah daku dengan tidak dibebani dengan sesuatu yang tidak termampu aku melaksanakannya dan kurniakanlah aku dengan rupa yang elok seperti yang Engkau meredhainya.Ya Allah yang mencipta langit dan bumi dan yang mempunyai segala kebesaran dan kemuliaan, aku memohon daripadaMu ya Allah yang Maha Penyayang, dengan kemuliaan dan Nur WajahMu, supaya diperkasakan hatiku untuk mengingati KitabMu. Dan, sebagaimana Engkau mengajarkanku al-Kitab itu, kurniakanlah juga aku (kekuatan dan hidayah) supaya dapat membacanya sebagaimana yang Engkau menyukainya. Ya Allah yang mencipta langit dan bumi serta yang mempunyai segala kebesaran dan kemuliaan, aku memohon daripadaMu ya Allah yang Maha Penyayang, dengan kemuliaan dan Nur WajahMu, supaya disinari wajahku dengan Nur KitabMu, sentiasa dibasahi lidahku dengan membaca KitabMu, dibukakan hatiku, dilapangi dadaku dan dimandikan (disucikan) diriku dengan KitabMu. Sesungguhnya, tiadalah keupayaan aku melakukan yang haq melainkan dengan kekuatan dariMu jua dan tiadalah sebarang kekuatan pada apa-apapun melainkan dengan izin Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agong jua.


#19 : Ambil Tahu Ilmu Sokongan 1

Menghafaz al-Quraan sambil mengambil tahu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kandungan al-Quraan itu sendiri boleh mempercepatkan hafazan. ‘Mengambil tahu’ bermaksud memahami prinsip-prinsip asas ilmu berkenaan. Maksudnya, tidaklah sampai ke tahap benar-benar menguasai ilmu berkenaan. Antara ilmu-ilmu yang harus diambil tahu ialah prinsip-prinsip asas bahasa Arab, hukum-hukum fiqh asas, peristiwa-peristiwa besar dalam seerah RasulAllah SAW, ringkasan kisah-kisah para nabi dan perkara-perkara yang berkaitan dengan ‘ulum al-Quraan. Pengetahuan asas dalam ilmu berkenaan dapat membantu apabila kita berada dalam kekeliruan atau terpaksa membuat tekaan (guessing) apabila kita terlupa sesuatu ayat. Sesi ini akan membicarakan persoalan keperluan bahasa Arab asas.

Menguasai bahasa Arab memang satu kelebihan (advantage) dalam proses penghafazan tetapi bukanlah satu kemestian. Terdapat perbezaan yang ketara antara bahasa Arab seharian dan bahasa Arab rasmi dengan bahasa al-Quraan. Tidak semestinya seseorang yang fasih bercakap Arab boleh memahami al-Quraan dengan tepat. Oleh yang demikian juga, tidak semestinya seseorang yang fasih berbahasa Arab boleh menghafaz al-Quraan dengan mudah. Dewasa ini sudah menjadi tidak luar biasa apabila kita menemui seseorang yang lemah penguasaan bahasa Arabnya tetapi baik hafazan al-Quraannya. Walaupun al-Quraan merupakan bahasa Arab yang paling sempurna dan paling tinggi nilai bahasa dan kesusasteraannya, situasi yang dinyatakan tadi membenarkan firman Allah yang diulangi empat kali dalam surah al-Qamar (ayat 17, 22, 32, 40) bahawa al-Quraan itu telah dipermudahkan oleh Allah untuk orang-orang yang ingin mengingatinya.

Para penghafaz hanya perlu menumpukan penguasaan bahasa Arab dalam aspek yang menyumbang secara langsung dalam proses penghafazan. Tumpuan boleh diberikan kepada tiga aspek, iaitu:

(a) menguasai prinsip-prinsip asas nahu/qawa’id, terutamanya hukum-hukum:

(i) mubtada’, khabar, inna dan kaana;

(ii) kata bilangan (mufrad, mu’annath dan jama’);

(iii) jantina (muzakkar dan muannath);

(iv) perbuatan (fe’l, faa’el, maf’uul dan yang berkaitan dengannya);

(b) memahami dan menguasi ‘common vocabularies’ al-Quraan. Oleh kerana, seperti yang dijelaskan di atas, terdapat jurang (gap) di antara bahasa Arab yang digunakan seharian dengan bahasa al-Quraan, penghafaz al-Quraan perlu mengetahui ‘vocabulary’ yang sering digunakan dalam al-Quraan. Untuk peringkat awal menggunakan al-Quraan terjemahan amat berkesan; dan

(c) mengusai istilah-istilah syara’, contohnya istilah-istilah yang digunakan dalam hukum-hakam dan dalam ilmu aqidah. Ini kerana istilah-istilah seperti ‘iman’, ‘jihad’, ‘taqwa’, ‘jazaa (ganjaran)’, ‘iqaab (hukuman)’, ‘falah (kejayaan)’, ‘jannah (syurga)’, ‘solah’, ‘nikah’, ‘ma’ruuf’, ‘munkar’ dan ‘zakaah/tazkiyah (penyucian diri)’ amat banyak digunakan secara berulang-ulang dan dalam berbagai bentuk di dalam al-Quraan. Selain daripada menggunakan al-Quraan terjemahan, membaca buku-buku yang berkaitan dapat membantu dalam pengukuhan kefahaman istilah-istilah berkenaan.


#21 : Ambil Tahu Ilmu Sokongan 2

Selain daripada bahasa Arab (yang dibincangkan dalam Tips #19), ada beberapa bidang lagi yang harus diambil tahu bagi mempermudahkan proses penghafazan al-Quraan. Antaranya seperti yang tersenarai di bawah:

(a) Peristiwa-peristiwa penting dalam seerah RasulAllah, terutamanya:
(i) Dakwah di peringkat awal di Makkah;
(ii) Hijrah;
(iii) Perang Badar;
(iv) Perang Uhud;
(v) Perang Ahzab;
(vi) Perjanjiah Hudaibiyyah;
(vii) Futuh Makkah;
(viii) Perang Hunain.

Peristiwa-peristiwa di atas serta perkara-perkara berkaitan dan hukum-hakam yang turun bersamaan dengannya selalunya dijelaskan dengan terperinci dalam surah-surah tertentu.

(b) Hukum-hakam berikut:
(i) solat terutamanya solat Jumaat, solat jama’ dan qasar, berjamaah, dalam perang dan atas kenderaan;
(ii) hajj – prosedur pelaksanaannya diperincikan satu persatu dalam al-Quraan;
(iii) nikah – perkara-perkara berkaitannya seperti perkahwinan, perceraian dan penjagaan anak-anak disebut di beberapa tempat;
(iv) pengiraan-pengiraan dalam pembahagian pesaka;
(v) puasa Ramadhan;
(vi) perang;
(vii) makanan halal dan haram; dan
(viii)hukum-hakam yang khusus untuk muslimat.

(c) Jalan cerita kesah beberapa orang Nabi yang biasa diulangi dalam al-Quraan iaitu:
(i) Nabi Hud;
(ii) Nabi Lut; dan
(iii) Nabi Soleh;

(d) Kisah-kisah nabi yang diperincikan dalam al-Quraan itu:
(i) Nabi Musa dan Harun;
(ii) Nabi Ibrahim;
(iii) Nabi Adam;
(iv) Nabi Yusuf;
(v) Nabi Nuh; dan
(vi)Nabi Isa dan Maryam.

(d) Sains dan kejadian alam, terutamanya:
(i) peroses kejadian manusia;
(ii) kejadian langit dan cakerawala serta fenomana siang dan malam;
(iii) kejadian hujan;
(iv) fenomena kajadian bumi terutamanya tumbuh-tumbuhan, gunung-ganang, laut dan sungai dan
(v) fenomena alam khusus kepada orang Arab antaranya padang pasir dan unta.


#20 : Fahami Fenomena Kelupaan

Serba sedikit mengenai persoalan lupa telah disentuh dalam beberapa topik sebelum ini. Topik ini bukanlah untuk menyediakan formula untuk mengatasi masalah lupa. Sebaliknya untuk menarik perhatian kita supaya memahami fenomena lupa dan seterusnya menyarankan langkah-langkah yang boleh diambil bagi mengatasinya. Tips #11 berkaitan peristiwa Nabi Allah Adam yang dikeluarkan dari syurga, memberikan petunjuk (hint) bahawa sejarah lupa sama umurnya dengan sejarah kejadian manusia. Surah al-Kahf juga secara panjang lebar membawa kisah- kisah Nabi Musa, yang tiga kali terlupa mematuhi perjanjiannya dengan nabi Hidhir. Juga pernah disentuh bahawa Sahabat besar dan ulama’ masyhur juga tidak terlepas daripada masalah kelupaan. Antaranya seperti yang dinyatakan dalam tips sebelum ini, Sayyidina Ali K.W. terpaksa mengadu pada RasulAllah sendiri mengenai masalah kelupaan yang dihadapinya. Mereka yang lazim bersolat di belakang imam-imam hafiz juga biasa ketemu dengan imam yang tersilap dalam solat Tarawikh. Maksudnya, kelupaan ialah fenomena semula jadi (nature) kehidupan manusia yang berkemungkinan besar tiada siapa yang boleh 100% mengatasinya.

Fenomena lupa dalam proses penghafazan al-Quraan boleh dibahagikan kepada dua keadaan iaitu lupa berat dan lupa ringan. Lupa ringan ialah tidak dapat mengungkap (recall) ayat-ayat yang telah dihafaz dan berlaku pada sesiapa sahaja. Lupa berat pula ialah situasi ayat-ayat yang telah dihafaz memang hilang terus dari ingatan. Lupa ringan merupakan fenomena yang berlaku yang boleh dikaitkan dengan keadaan diri dan persekitaran yang tidak mengizinkan kita mengungkap ayat-ayat al-Quraan yang telah tertulis (registered) dalam ingatan kita. Dua pengaruh utama yang menyumbang kepada lupa ringan, iaitu gangguan Syaitan dan keadaan diri kita sendiri.

LUPA RINGAN
Gangguan Syaitan, seperti yang dijelaskan dalam surah al-Kahfi merupakan satu daripada faktor kelupaan. Sebab itulah Allah memerintahkan kita memulakan bacaan al-Quraan dengan ta’awudz (a-‘udzu bil-Lah min as-Syaitaan). Kisah-kisah gangguan Syaitan ke atas para Nabi, termasuk cubaan mengganggu RasulAllah S.A.W. sendiri menunjukkan kesungguhan Syaitan tiada batasannya untuk menghalang amalan baik anak Adam.

Faktor keadaan diri pula, sebahagiannya ialah keadaan fizikal kita sendiri merupakan antara penyumbang utama kepada fenomena lupa hafazan. Berkaitan dengan ini, kita perlu memberi perhatian kepada ayat 5 surah al-Muzzammil bahawa al-Quraan itu ialah ‘ayat yang berat (thaqeel)’. Keadaan fizikal yang lemah sedikit-sebanyak memberikan kesan yang signifikan ke atas mutu hafazan seseorang. Keadaan kesihatan, tahap kecergasan yang rendah, pemakanan yang tidak seimbang dan tidak teratur serta rehat yang tidak mencukupi boleh menjejaskan hafazan. Oleh itu kita tidak perlu hairan jika pada bulan Ramadhan terdapat imam-imam hafiz ‘tersangkut-sangkut’ ketika mengimami solat Tarawekh lantaran kepenatan berpuasa dan bekerja di siang hari serta disibukkan oleh aktiviti-aktiviti masyarakat dan masjid pada sebelah malamnya. Kenapa keadaan fizikal mempunyai kaitan yang rapat dengan fenomena lupa?. Pembacaan semula (recalling) ayat-ayat yang telah dihafaz memerlukan tahap konsentrasi yang tinggi. Hal ini memerlukan tenaga dan kekuatan. Sebab itu jugalah kita biasa melihat para hafiz, selepas mengimami solat, bermandi peluh dan nampak kepenatan.
Seperkara lagi yang boleh dikaitkan dengan keadaan diri ialah ‘kesihatan ruh’ kita sendiri. Mungkin sebahagian kita biasa mendengar kisah kelupaan imam as-Syafie yang dikaitkan dengan ‘tersalah’ memakan daging kambing yang ‘syubhah’. Sebab itulah antara persediaan untuk menghafaz al-Quraan, seperti yang dijelaskan dalam surah al-Muzzammil dan al-Muddath-thir, ialah ‘pembersihan diri’. Antaranya, memperbanyakkan istighfar, bertahajjud, memperbaiki mutu ikhlas serta membersihkan diri dan sentiasa memakai pakaian dan memakan makanan yang bersih.

Bagi menghadapi fenomena ‘lupa ringan’ ini, beberapa langkah boleh diambil, antaranya:
(a) seperti yang disarankan dalam ayat 24 surah al-Kahf dan bersesuaian dengan ayat 6 surah an-Naml, ingati Allah dan harapkan supaya Allah membacakannya ke dalam ingatan kita;
(b) seperti yang disarankan dalam surah an-Naas serta ayat 97 dan 98 surah al-Mu’minoon, harapkan supaya Allah mendiding kita daripada bisikan dan ‘was-was’ Syaitan;
(c) kembalikan konsentrasi dengan memastikan bacaan di lidah kita tidak mendahului bacaan dalam ingatan kita;
(d) semak tahap pembersihan diri kita (lihat Tips #4 dan Tips #14); dan
(e) semak rutin harian kita (lihat Tips #8).

LUPA BERAT
Kadang-kadang keadaan ‘belum ingat’ sinonim dengan fenomena lupa. Keadaan ‘lupa berat’ boleh berlaku terutamanya dalam proses penghafazan ayat-ayat yang hampir serupa antara satu dengan yang lain. Kekeliruan dan bercampur aduk antara ayat adalah sebahagian daripada tanda-tanda ‘lupa berat’. Jika diambil iktibar daripada ayat 6 surah al-A’laa yang menyatakan sekiranya Allah telah ‘membacakan (talaqqa)’ al-Quraan ke dalam ingatan kita, selama-lamanya kita tidak akan lupa lagi, fenomena ‘lupa berat’ sebenarnya lebih menjurus pada fenomena ‘belum ingat’.

Umum kurang menyedari bahawa sebelum seseorang boleh membaca hafazan al-Quraan dengan licin dan sempurna seperti yang dilakukan oleh Imam Masjidil Haram, ia perlu melalui proses pematangan ayat-ayat yang telah dihafaz. Biasanya, hafazan seseorang mencapai tahap ‘separuh matang’ selepas dua tahun dari tarikh hafazan pertama. Hafazan selepas lima tahun, sekiranya sentiasa disemak dengan teratur, boleh dianggap matang. Maksudnya, salah satu daripada kaedah mengatasi masalah lupa berat ialah semakan hafazan yang berterusan sehingga menjadi matang. Rujuk Tips #11.

Menghafaz menggunakan teknik yang kurang bersesuaian juga antara penyumbang kepada berlakunya fenomena kelupaan berat. Jika terdapat tanda-tanda kelupaan berat, cuba ubah teknik penghafazan. Sebahagiannya dibincangkan dalam Tips #12. Ambil perhatian isu-isu lain yang berkaitan, antaranya:
(a) masalah penghafazan ayat-ayat awal surah;
(b) masalah penghafazan ayat-ayat generic dan unik;
(c) perbezaan penghafazan ayat-ayat Makkiyyah dan ayat-ayat Madaniyyah; dan
(d) perkara-perkara ‘remeh’ seperti yang dibincangkan dalam Tips #7.

Seperti yang telah dibincangkan dalam tajuk-tajuk terdahulu, hakikatnya kemampuan seseorang menghafaz al-Quraan bergantung pada keizinan Allah. Oleh itu, perbanyakkanlah berdoa. Jika mampu, amalkan doa yang diajarkan kepada Sayyidina Ali setiap minggu. Jika kurang mampu, cuba sebulan sekali. Jika tidak mampu juga, cubalah sekurang-kurangnya sekali seumur hidup. Jika masih tidak mampu juga, manfaatkan doanya sahaja.

Wallahualam.

Read more: http://balliqul-ilm.blogspot.com/2008/10/tip-tahfiz-8-tip-menghafaz-al-quran.html#ixzz0tpj6E5HA

Pusat Bimbingan Al-Quran Syathibiyyah

KEM Bimbingan IMAM MUDA & TAHFIZ 2010

Seminar Al-Quran Muslimah 2010 anjuran PBQS di Madrasah Taufiqiyah Padang Tembak, Teluk Intan,Perak.

Kursus Pemantapan Al-Quran Remaja 2010 anjuran PBQS & SRAR Bandar Teluk Intan di Teluk Intan, Perak.

PBQS bersama Juri Akademi Quran Ust. Radhi Kamarul Hailan di Seminar Thahsin Qiraat, Shah Alam.

PBQS bersama Juara Akademi Quran Ust. Anuar Hasin di ILDAS, Sabak Bernam.

PBQS menziarahi Syeikh Al-Quran A.F Ust. Zunaiddin di UIAM, Gombak.